Rabu, 26 Juli 2017

Teori Struktural Puisi

Teori Struktur Puisi
            Puisi sebagai salah sebuah karya seni sastra dapat dikaji dari berbagai macam aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. Begitu juga, puisi dapat dikaji dari sudut kesejarahannya, mengingat bahwa sepanjang sejarahnya, dari waktu ke waktu puisi selalu ditulis dan selalu dibaca orang. Shahnon Ahmad (1978: 3) mengumpulkan definisi-definisi puisi yang dikemukakan oleh penyair romantic Inggris. Menurut Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan yang terindah. Menurut Carlyle, puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Menurut Wordsworth, puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun pendapat dari Auden, puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur, sedangkan menurut Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama.
           Jadi, puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi pancaindra dalam susunan yang berirama. Semua itu merupakan sesuatu yang penting, yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan memberi kesan. Puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan. Selain pengertian puisi, kalian juga perlu memahami struktur puisi. Adapun struktur puisi dibagi menjadi dua:
a)      Struktur Fisik
1.      Diksi, yaitu pemilihan kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya.
2.      Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan.
3. Kata konkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indra yang memungkinkan munculnya imaji.
4. Gaya bahasa (bahasa figurative), yaitu penggunaan bahasa yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu.
5.      Rima/irama, yaitu persamaan bunyi pada puisi, baik diawal, tengah, dan akhir baris puisi.
b)      Struktur Batin 
1.  Tema/makna: media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
2.      Rasa, yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya.
3.     Nada, yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca.
4.    Amanat/tujuan/maksud, yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca.
 DAFTAR PUSTAKA
Pradopo, Rachmat Djoko. 2014. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada           University Press
Rosana, Dewi dan Gunawan Budi Santoso. 2015. Bahasa Indonesia. Sidoarjo:  Masmedia.

Senin, 24 Juli 2017

Teori sastra Tugas UAS (Analisis makna batin puisi)

1. Puisi memiliki lapis makna yaitu subject matter, feeling, tone, total of meaning, dan theme.
   a. Subject matter: Pokok pikiran yang dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakannya. Dalam subject matter gambaran umum telah diperinci dalam satuan-satuan pokok pikiran. Sehingga dalam menulis analisis puisi, subject matter akan melahirkan pertanyaan, “pokok pikiran apa yang akan diungkapkan oleh penyair sesuai dengan gambaran umum itu?”  
   b. Feeling: Sikap penyair terhadappokok pikiran yang ditampilkan. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa setiap manusia mempunyai sikap dan pandangan tertentu dalam menghadapi setiap pokok persoalan.
   c. Tone: Sikap penyair terhadap pembaca/penikmat puisi. Bagaimanakah sikap penyair terhadap pembacanya dapat dirasakan dari nada ciptaanya. Apakah penyair itu bersikap menggurui, angkuh, membodohkan, rendah hati, sugestif, persuatif, dan sebagainya terhadap para peminat puisinya jelas akan kelihatan dari warna puisi tersebut.
   d. Total of meaning: Totalitas makna adalah keseluruhan makna yang terdapat dalam puisi. Penentuan makna ini didasarkan pada pokok-pokok pikiran yang ditampilkan penyair, sikap penyair terhadap pokok persoalan yang disajikan dalam puisi, serta sikap penyair terhadap penikmat puisinya
   e. Theme: Merupakan ide dasar dari suatu puisi yang bertindk sebagai inti dari keseluruhan makna   dalam puisi tersebut. Tema hanya dapat ditentukan dengan cara menyimpulkan inti yang terdapat dalam totalitas makna puisi.

2. a) Puisi Malam Itu

Malam itu aku seperti tercampakkan
Bagai tebu habis disesap dahaga waktu
Ruang hampa
Sendiri kian menganga
Tak terkira
Di manakah dengus yang mendetakkan gairah
Sedang aromamu berseliweran menguntit raga
Kueja detak yang merangkak
Bosan berselimut kelam
Adakah peri mengirim isyarat di sunyi
Sedang kepergianmu menebus rindu
Yang tak kutahu
Ingin kutinggal gelanggang
Menggelandang ke ketiak senyap
Kutawar tawar rasa
Muntah kujilat kembali di lidah
Ah tak sanggup aku rupanya

 Berbicara mengenai lapis makna puisi pada puisi tersebut adalah subject matter yaitu pokok pikiran yang dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakannya. Pada puisi tersebut berjudul “Malam Itu” menceritakan tentang seseorang yang merindukan kekasihnya dan dia ditinggal pergi. Terdapat pada kutipan berikut:
 “Sedang kepergianmu menebus rindu”
Dan tidak hanya rindu, dia ingin mengobati rasa rindu itu dengan cara ingin melupakannya. Hal itu didukung pada kutipan berikut:
 “Ingin kutinggal gelanggang”
“Menggelandang ke ketiak senyap”
“Kutawar tawar rasa”
“Muntah kujilat kembali di lidah”
“Ah tak sanggup aku rupanya”
Felling pada puisi tersebut adalah rasa sedih. Kesedihan Karena ditinggal sang kekasih dan rindu akan kekasihnya. Perasaan yang ditekankan pada puisi “Malam Itu” adalah kesedihan. Hal tersebut ada pada kutipan Sendiri kian menganga.
Tone atau nada yang ditunjukkan dalam puisi “Malam Itu” adalah kerinduan. Nada kerinduan ini muncul karena rasa rindu seorang pria yang memiliki kekasih tapi ditinggal pergi oleh kekasihnya. Maka munculah benih-benih kerinduan dalam pria tersebut. Perasaan yang ditekankan pada puisi “Malam Itu” adalah kesedihan.
 Total of meaning pada puisi “Malam Itu” adalah bahwa penyair mengawali puisi nya dengan kata Malam itu aku seperti tercampakkan . Seperti ‘aku’ dalam kata tersebut sama dengan artian seseorang yang tidak dihargai. Juga seseorang tersebut ditinggal pergi dengan kekasihnya. Dan menimbulkan akibat bagi seseorang tersebut untuk mempunyai rasa rindu. Rindu kepada kekasihnya yang meninggalkan dia pergi.  Feeling pada puisi “Malam Itu” adalah rasa sedih. Hal ini terdapat pada kata Sendiri kian menganga. Rasa Sedih karena ditinggal sang kekasih. Dan nada dalam puisi tersebut adalah kerinduan.  Dimana rindu seorang pria yang ditinggal pergi oleh kekasihnya.
  Theme atau tema dalam puisi “Malam itu”  adalah kerinduan. Dalam puisi “ Malam Itu” menceritakan tentang seorang pria yang ditinggal pergi oleh kekasihnya dan menimbulkan rasa rindu seorang pria tersebut kepada kekasihnya. Dia ingin mengatasi kerinduannya dengan melupakannya tetapi sayangnya dia tidak sanggup untuk melupakan kekasihnya itu.
b) Puisi Rambutmu

Gelombang mengalir di rambutmu
Basah di pagi itu
Memerah tanpa pewarna
Kukeringkan dengan panas darahku
Sebab padamu telah kueja sejarah
Yang terpendam dalam larutan
Di luar lurus lapang
Di dalam meliuk kau sembunyikan
Biarkanlah apa adanya
Rumputan menjalar indah dipandang
Telah kutemukan cermin hidupku
Pada rambutmu
Saat kujamah di pagi yang basah

Subject matter pada puisi “Rambutmu” yaitu seorang pria yang mengagumi sang gadis karena sifat sang gadis yang apa adanya. Juga karena sudah mengetahui masa lalunya, seorang pria tersebut memperjuangkannya.
Felling atau perasaan pada puisi tersebut adalah rasa kagum. Karena seorang pria sangat terkagum kagum pada sang gadis dengan sifatnya yang apa adanya. Terdapat pada larik Rumputan menjalar indah dipandang. 
Tone yang ditekankan pada puisi tersebut adalah kebahagiaan. Kebahagian seorang pria yang menemukan cermin hidupnya.
Total of meaning dalam puisi “Rambutmu” yaitu seorang pria yang mengagumi sang gadis yang mempunyai sifat adanya. Dan felling seorang pria yang dipenuhi rasa kagum kepada sang gadis hingga dia memperjuangkannya untuk sang gadis. Juga tone yang ditekankan yaitu kebahagiaan seorang pria karena sang gadis.
Theme dalam puisi “ Rambutmu” adalah kekaguman.
c) Puisi Mendung Berduri

Balasanmu pendek sekali
Seperti pelepah pisang yang dirajang celurit cemburu
Patahnya menyisakan amis di dada
Mengapa percik getahnya menyiprat ke lading
Yang kutanam dengan cinta
Cuaca sepanjang hari mengirim mendung berduri
Adakah aku harus berlari
Meninggalkan jejak yang terlanjur mengurai sepi
Pada jemarimu telah kutulis sekuntum puisi
Sementara sayap-sayap mawar yang gugur minta kuganti
Biji esok hari
Tapi kilatan-kilatan celuritmu menuding kedahi
Tanpa kumengerti

Subject matter pada puisi “Mendung Berduri” yaitu tentang seorang pria yang kecewa terhadap kekasihnya. Juga  kekasihnya  yang sudah menuduhnya karena rasa cemburu yang dirasakan oleh kekasihnya. Terdapat pada larik Mengapa percik getahnya menyiprat ke lading.
Felling yang ditekankan pada puisi “Mendung Berduri” adalah rasa kecewa. Kecewanya seorang pria terhadap kekasihnya yang dengan cuek membalas pesannya karena kekasihnya yang cemburu terhadapnya. Hal itu dibuktikan dengan larik Balasanmu pendek sekali Seperti pelepah pisang yang dirajang celurit cemburu.
Tone atau nada yang ada dalam puisi “Mendung Berduri” adalah kekecewaan. Hal itu didukung pada larik Patahnya menyisakan amis di dada.
Total of meaning pada puisi tersebut adalah penyair menggambarkan tentang seorang pria yang merasa kecewa akan kekasihnya. Karena kekasihnya yang cemburu dan menuduhnya dengan sebab yang tidak jelas juga. Dan felling yang digambarkan pada puisi tersebut adalah rasa kecewa, juga tone atau nada yang ada dalam puisi “ Mendung Berduri” adalah kekecewaan seseorang terhadap kekasihnya.
Theme atau tema dalam puisi “Mendung Berduri”  adalah kekecewaan.



Daftar Pustaka

2016. lapis bentuk. Dalam

(https://indahnyaberpuisiitu.wordpress.com/2016/02/08/lapis-bentuk-struktur-lapis-makna-dan-ragam-dalam-puisi/)

Teori sastra tugas UAS (Teori Poskolonial)

MENGANALISIS CERPEN MENGGUNAKAN TEORI POSKOLONIAL GENETIK
Dosen Pembimbing
Dr. M. Shoim Anwar M.Pd



Oleh :

Tugas individu PBSI-B/2016

SRI WULAN PANGESTU             165200079

UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SURABAYA
2017






BAB 1
PENDAHULUAN
     Karya sastra mengungkapkan nilai-nilai sejarah yang ada pada masyarakat tertentu. Dalam hal ini, pengarang sebagai pencipta karya sastra tentu merupakan bagian dari masyarakat yang menggambarkan sejarah melalui karya sastranya.
   Tak dapat dipungkiri bahwa postkolonial merupakan sebuah wacana yang sangat menarik dan menantang. Melalui teks masyarakat postkolonial mampu mengekspresikan dan menemukan sarana resistensinya yang tajam. Menurut Foulcher dan Day (2008:4) postkolonial adalah salah satu kritik sastra yang mengkaji atau menyelidiki karya sastra tentang tanda-tanda atau pengaruh kolonial. Unsur-unsur postkolonial dapat ditemukan dalam karya satra seperti cerpen, puisi, novel dan drama.
  Poskolonial adalah pendekatan poststruktural yang diterapkan pada topik khusus. Kajian postkolonial, dengan sendiri tidak akan melupakan aspek-aspek kolonial, yaitu “penjajah” dan “terjajah”. Kolonialisme mengonstruksi masyarakat pribumi menurut kehendak dan tujuan-tujuan kekuasaannya. Teori poskolonial sangat relevan dalam kaitannya dengan kritik lintas budaya sekaligus wacana yang ditimbulkannya. Tema-tema yang dikaji sangat luas dan beragam, diantaranya: politik, ideologi, agama, pendidikan, sejarah, antropologi kesenian etnisitas, bahasa dan sastra, sekaligus dengan bentuk praktik dilapangan, seperti perbudakan, pendudukan, pemindahan penduduk, pemaksaan bahasa, dan berbagai bentuk invasi kultural yang lain.






BAB II
PEMBAHASAN
     Konsep Bhaba mengenai postkolonialisme bahwa penjajah itu seperti Max Havelar yang melahirkan politik etis di Indonesia. Baik dari konsep Said maupun Bhaba, konsep dari poskolonial bermuara pada lost identity atau kehilangan jati dirinya, baik dalam orientalisme, mimikri, maupun hibriditi. Faruk (2007:6) menyatakan bahwa tindakan masyarakat terjajah dalam melakukan peniruan ada kemungkinan mengejek penjajah karena mereka tidak melakukan peniruan dengan sepenuhnya setia pada model yang ditawarkan penjajah.
     Tokoh raksasa dalam cerpen ini juga memainkan peran yang tak kalah pentingnya dari tokoh aku/win yaitu tokoh utamanya. Bahwa raksasa itu menjajah manusia dengan lumpurnya. Hal itu dibuktikan dengan kutipan berikt ini:
“Dalam waktu yang sangat cepat, tanggul demi tanggul ambrol diterjang lumpur panas itu. Desa kami dilahap satu demi satu. Seperti monster cair yang melalap sasarannya sambal merayap ke segala arah. Maka korban pun terus berjatuhan.”(halaman 167)
“Raksasa itu semakin membesar. Kini kami semua menjadi sasarannya. Raksasa itu hendak menguasai tubuh-tubuh kami. Sawah-sawah dan lading kami telah dihabiskan. Ternak-ternak kami dilalapnya. Rumah kami jadi musnah.”(halaman 171)
     Dan juga adanya hegemoni kuasa yaitu raksasa yang melukai tokoh keluarga aku/win hingga sang mertua, ibu timas tewas. Dan seperti pada kutipan:
“Di tengah perjalanan, terjadi ledakan hebat di dekat kami. Pipa gas yang tertimbun lumpur panas itu meledak karena kemunculan sang raksasa dari perut bumi. Bunga api menyambar dan meluluhlantahkan tempat di sekitarnya. Kami terpental. Aku dan anakku masih mampu bangkit. Timas luka parah. Sedangkan sang mertua, ibu Timas, tewas dan tubuhnya robek-robek menjadi santapan sang raksasa.” (halaman 175)
     Pada cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” karya M. Shoim Anwar. Terdapat dua biner yaitu penjajah dan dijajah. Dijelaskan bahwa penjajah terdapat pada raksasa/lumpur panas dan yang di jajah terdapat pada tokoh timas, marsinah, dan ibu timas. Dan juga yang selalu terjajah dalam cerpen tersebut selalu perempuan. Terdapat pada kutipan:
“Tapi sayang, nasib Marsinah berakhir dengan tragis sebelum perjuangannya tercapai secara merata. Dia dijegal di Tugu Kuning saat pulang bersama Timas. Marsinah berteriak minta tolong. Timas tak kuasa karena sang raksasa membetotnya dengan cepat. Marsinah dibunuh dan dimangsa oleh sang raksasa itu.” (halaman 173)
”Aku dan anakku masih mampu bangkit. Timas luka parah. Sedangkan sang mertua, ibu Timas, tewas dan tubuhnya robek-robek menjadi santapan sang raksasa.”(halaman 175)
Dalam kutipan tersebut sudah jelas bahwa selalu kaum perempuan yang terjajah. Walaupun dalam cerpen tersebut juga ada laki-laki yang terjajah yaitu tokoh aku/win tapi masih dominan yang terjajah adalah kaum perempuan.




BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Secara umum postkolonial dipahami sebagai teori, wacana, dan istilah yang digunakan untuk memahami masyarakat bekas jajahan, terutama sesudah berakhirnya imperium kolonialisme modern. Berdasarkan pemaparan yang telah saya bahas dapat di simpulkan bahwa poskolonial yaitu cara pandang ‘barat” terhadap “timur”. Selama ini “barat” selalu mengasosiasikan diri mereka sebagai kelompok yang logis, maju, dan superior sementara “timur” selalu dipandang oleh barat sebagai kelompok yang kuno, tidak berpendidikan dan lemah.
Kajian postkolonial, dengan sendiri tidak akan melupakan aspek-aspek kolonial, yaitu “penjajah” dan “terjajah”. Jadi, dapat disimpulkan yaitu  pada cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” terdapat dua biner yang berbeda, menjajah dan dijajah, warga yang dijajah sedangkan raksasa yang menjajah.



  



Daftar Pustaka

Anwar, M. Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan: CV Pustaka Ilalang
ja’far.(2011).poskolonialisme. Dalam




Senin, 12 Juni 2017

menganalisis cerpen menggunakan teori poskolonial

BAB 1
PENDAHULUAN

       Karya sastra mengungkapkan nilai-nilai sejarah yang ada pada masyarakat tertentu. Dalam hal ini, pengarang sebagai pencipta karya sastra tentu merupakan bagian dari masyarakat yang menggambarkan sejarah melalui karya sastranya. Menurut Endraswara (2011: 178) bahwa karya sastra yang dilahirkan oleh pengarang yang sekaligus pejuang, pelaku sejarah, dengan pengarang sebagai pengamat sejarah akan memiliki nuansa yang berbeda. Apalagi kalau pengarang demikian sekadar “membaca sejarah “, lalu mencipta karya-karya berbau kolonial, tentunya akan berdimensi lain. Karya-karya demikian, perlu didekati dari kajian postkolonial, agar terungkap apa yang ada di balik karya tersebut.
        Kajian postkolonial, dengan sendiri tidak akan melupakan aspek-aspek kolonial, yaitu “penjajah” dan “terjajah”. Pada wilayah praktis, penciptaan wacana kolonial sama sekali meniadakan subjek terjajah. Wacana kolonial menarasikan masyarakat pribumi, seolah menulis di atas kertas kosong tentang masyarakat yang sama sekali belum ditandai. Kolonial memberi nama, mencirikan, dan mengkaji masyarakat terjajah dalam kerangka kerja dan aturan-aturan yang telah mereka tentukan. Mereka memiliki otoritas penuh untuk menciptakan gambaran masyarakat pribumi. Kolonialisme mengonstruksi masyarakat pribumi menurut kehendak dan tujuan-tujuan kekuasaannya.
        Teori poskolonial sangat relevan dalam kaitannya dengan kritik lintas budaya sekaligus wacana yang ditimbulkannya. Tema-tema yang dikaji sangat luas dan beragam, diantaranya: politik, ideologi, agama, pendidikan, sejarah, antropologi kesenian etnisitas, bahasa dan sastra, sekaligus dengan bentuk praktik dilapangan, seperti perbudakan, pendudukan, pemindahan penduduk, pemaksaan bahasa, dan berbagai bentuk invasi kultural yang lain.
      Dalam makalah ini, cerpen dengan judul “Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” menceritakan tentang seorang istri Pak Lurah yang dirumorkan bahwa ada tahi lalat di dadanya. Dan permasalahan tersebut tersebar luas. Ditambah lagi dengan masalah tanah dari kas desa yang akan dijadikan perumahan oleh Pak Lurah. Dalam hal tersebut, warga merasa dirampas haknya dan tokoh Aku tidak terima. Pada tahap pembangunan tokoh Aku dan beberapa rekannya menghentikan proses tahap pembangunan tersebut. Semakin mendekati masa pendaftran calon lurah, disamping soal penjualan tanah kas desa, beita adanya tahi lalat di dada istri Pak Lurah tidak menyurut, tapi semakin hari malah semakin menyebar luas dan melebih-lebihkan isu tersebut.
     Dengan demikian, cerpen tersebut sangat cocok apabila dikaitkan dengan analisis  teori postcolonial. Karena pada teori poskolonial ini bicara soal penjajah dan yang terjajah dalam masa kolonial dan sesudahnya, terutama karena tema tersebut tak relevan lagi, sebab sudah terlalu banyak jenis-jenis penjajahan baru. Inti dari kritik postkolonial atas kolonialisme adalah tidak dalam bentuk ‘fisik penjajahan’, melainkan juga dalam bangunan wacana dan pengetahuan (bahkan bahasa).

  
BAB II
PEMBAHASAN
      Secara umum postkolonial dipahami sebagai teori, wacana, dan istilah yang digunakan untuk memahami masyarakat bekas jajahan, terutama sesudah berakhirnya imperium kolonialisme modern. Dalam pengertian yang lebih luas, postkolonial juga mengacu pada objek sebelum dan pada saat terjadinya kolonialisme. Oleh sebab itu, Nyoman Kutha Ratna dalam bukunya, Postkolonialisme Indonesia Relevansi Sastra (2008:81—82) mengemukakan lima pokok pengertian postkolonial, yaitu (1) menaruh perhatian untuk menganalisis era kolonial, (2) memiliki kaitan erat dengan nasionalisme, (3) memperjuangkan narasi kecil, menggalang kekuatan dari bawah, sekaligus belajar dari masa lampau untuk menuju masa depan, (4) membangkitkan kesadaran bahwa penjajahan bukan semata-mata dalam bentuk fisik, melainkan juga psikis, dan (5) bukan semata-mata teori, melainkan kesadaran bahwa banyak pekerjaan besar yang harus dilakukan, seperti memerangi imperalisme, orientalisme, rasialisme, dan berbagai bentuk hegemoni lainnya.
      Faruk (2007:6) menyatakan bahwa tindakan masyarakat terjajah dalam melakukan peniruan ada kemungkinan mengejek penjajah karena mereka tidak melakukan peniruan dengan sepenuhnya setia pada model yang ditawarkan penjajah.
Kajian postkolonial, dengan sendiri tidak akan melupakan aspek-aspek kolonial, yaitu “penjajah” dan “terjajah”. Dalam cerpen “Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” istri pak lurah adalah yang terjajah, hal tersebut dibuktikan dengan kutipan berikut:

“Jelaslah sekarang, bahwa berita adanya tahi lalat di dada istri Pak Lurah itu telah beranak-pinak, dikait-kaitkan dengan banyak hal. Teriakan-teriakan mereka dapat disimpulkan dengan mudah. Kini istri Pak Lurah itu diejek dan diolok-olok, citranya direndahkan.” (halaman 12)

“Orang-orang berdehem, pura-pura batuk ketika ada istri Pak lurah lewat. Mereka yang berpapasan menyempatkan tersenyum dan menyapa basa-basi. Tapi, di belakang dari arah istri Pak Lurah, orang-orang itu memberi isyarat gerakan membuat gelembung di dadanya, kemudian menuding-nudingkan telunjuk ke dadanya sebelah kiri. Maksudnya jelas, di payudara sebelah kiri istri Pak Lurah yang montok itu ada tahi lalatnya.” (halaman 15)

       Dan juga pada cerpen “Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” warga juga merasa tertindas dengan haknya dirampas oleh Pak Lurah dan Pak Bayan dan dibuktikan dengan kutipan berikut:
”Secara jujur kukatakan, Pak Lurah juga sering menggunakan cara-cara kotor dan menjijikkan. Selama menjabat, tidak sedikit warga yang kehilangan sawah ladangnya dan berganti dengan perumahan mewah. Warga yang tanahnya strategis, melalui Pak Bayan atau sekretaris desa, dirayu untuk menjual tanahnya dengan harga yang lumayan mahal. Begitu tanah-tanah yang strategis itu terlepas dari pemiliknya, Pak Lurah semakin gencar membujuk yang lain dengan cara memanggilnya ke kantor kelurahan. Aku sangat yakin keuntunganberlipat didapatkan Pak Lurah dari persentase diam-diam antara dia dengan pihak pembeli. Lihatlah, Pak Lurah dan Pak Bayan makin kaya dari hari ke hari.” (halaman 17)

Dalam cerpen tersebut juga ada ada hubungan sosial-budaya, itu terdapat pada kutipan
“Menurut Primbon Jawa, wanita yang memiliki tahi lalat di payudara sebelah kiri itu disenangi banyak orang dan pandai menghibur. Dan satu lagi yang penting….,” Bakrul menghentikan omongannya. Matanya mendelik sambal mengancungkan telunjuknya. Dia berhenti beberapa jurus menunggu reaksi kami.
“Apa itu?” aku menyambungnya
“Nafsu gininya besar,” jawab Bakrul sambal menjepit jempol dengan telunjuk dan jari tengahnya. “Masuk akal kan kalau skandal ini bisa terjadi?” (halaman 16)




 BAB III
PENUTUP
SIMPULAN

    Secara umum postkolonial dipahami sebagai teori, wacana, dan istilah yang digunakan untuk memahami masyarakat bekas jajahan, terutama sesudah berakhirnya imperium kolonialisme modern. Berdasarkan pemaparan yang telah saya bahas dapat di simpulkan bahwa poskolonial yaitu cara pandang ‘barat” terhadap “timur”. Selama ini “barat” selalu mengasosiasikan diri mereka sebagai kelompok yang logis, maju, dan superior sementara “timur” selalu dipandang oleh barat sebagai kelompok yang kuno, tidak berpendidikan dan lemah.
     Kajian postkolonial, dengan sendiri tidak akan melupakan aspek-aspek kolonial, yaitu “penjajah” dan “terjajah”. Jadi, dapat disimpulkan yaitu  pada cerpen “Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” terdapat dua biner yang berbeda, menjajah dan dijajah, istri Pak Lurah dijajah sedangkan Pak Lurah yang menjajah warga.





 Daftar Pustaka

Anwar, M. Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan: CV Pustaka Ilalang
Fazil abdulah.(t.th).teori postkolonial. Dalam
ja’far.(2011).poskolonialisme. Dalam



menganalisis cerpen menggunakan teori strukturalisme genetik

 BAB 1
PENDAHULUAN
      Suatu karya sastra tercipta tidak dalam kekosongan sosial budaya, artinya, pengarang tidak dengan tiba-tiba mendapat berkah misterius, kemudian dengan elegannya mencipta suatu karya sastra. Suatu karya sastra tercipta lebih merupakan hasil pengalaman, pemikiran, refleksi, dan rekaman budaya pengarang terhadap sesuatu hal yang terjadi dalam dirinya sendiri, dan masyarakat.
      Untuk menganalisis sebuah karya sastra dapat dilakukan dengan pendekatan-pendekatan, ataupun teori-teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Salah satunya konsep dasar strukturalisme Genetik yang dikonseptualisasikan oleh Goldmann. Strukturalisme genetic Goldmann merupakan pendekatan sastra yang bergerak dari teks sebagai focus yang otonom menuju faktor-faktor yang bersifat ekstrinsik di luar teks, yaitu penulis sebagai subjek kolektif suatu masyarakat. Harus diakui, konsep Goldmann ini dipengaruhi oleh teori sosial sastra Marx yang mengonseptualisasikan: a)Sastra merupakan sebuah fenomena zaman, b)Sastra adalah refleksi kehidupan pengarang pada masanya, c)Sastra adalah produk eksternal yang dipengaruhi oleh latar belakang sejarah dan sosial tertentu.
      Konsep Dasar Strukturalisme Genetik Goldmannsikan oleh Goldmann, berpijak pada pandangan bahwa karya sastra adalah sebuah struktur yang bersifat dinamis karena merupakan produk sejarah dan budaya yang berlangsung secara terus menerus (Faruk, 2010: 56). Kedinamisasian struktur sastra ini terbentuk karena relasi genetiknya, yaitu hubungan dialektis antara penulis dengan masyarakat. Penulis adalah individu yang menjadi anggota masyarakat. Masyarakat menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya visi dunia yang berdialog dengan penulis, sehingga kondisi masyarakat berperan besar dalam membentuk visi dunia penulis.
Pendekatan strukturalisme berusaha meneliti teks sastra dari segi sturktur, dengan melihat komponen-komponen yang membangun dan hubungan antar komponen tersebut. Setelah mendapatkan kesatuaan dan keutuhan teks, lalu dicari hubungannya dengan aspek sosio-budaya yang melatarbelakanginya. Dari penghubungan inilah sastra diharapkan makna teks sastra dapat dikonkritkan. Strukturalisme genetik mendiskripsikan pendekatannya dengan dua prinsip pokok, yaitu strukturalisme dan genetik. Pengertian strukturalisme dikoreksi dengan memaksukan faktor genetik di dalam pemahaman sastra.







BAB II
PEMBAHASAN

      Pecetus pendekatan strukturalisme genetik adalah Lucien Goldman seorang ahli sastra perancis. Teori Lucien Goldman didasarkan pandangan yang dikemukakan oleh George Luckas. Prinsip-prinsip pendekatan strukturalisme genetik adalah: (1) ciri khas studi sastra adalah mulai dari kesatuan, koheresi, dan konsepsional; (2) dalam menganalisis, struktur sastra harus diteleti secara cermat oleh pembaca dengan sifat otonom dan imajinernnya; (3) makna karya sastra mewakili pandangan dunia penulis sebagai wakil kelompok masyarakat tertentu; dan (4) genetik karya sastra adalah penulis dan latar belakang struktur sosial (kenyataan sejarah) karya sastra tersebut (Damono,1979: 42).
     Untuk menopang teorinya, menurut Faruk (12), Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling berkaitan satu sama lain sehingga membentuk strukturalisme genetik. Kategori-kategori tersebut adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan.
A) Fakta Kemanusiaan
Menurut Faruk (1999: 12) mengatakan bahwa Fakta kemanusiaan adalah segala aktivitas atau perilaku manusia baik yang verbal maupun yang fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Fakta itu dapat berwujud aktivitas sosial tertentu, aktivitas politik tertentu , kreasi kultural.
1) Aktivitas Sosial
“Anakku benar-benar hidup sendirian setelah ibunya diganyang istana. Dia akhirnya diasuh keponakan kami, dibawa ketempat yang jauh, di luar wilayah kekuasaan istana. Anakku disekolahkan dan hidup dalam keluarga berada.”
“Aku bersyukur bahwa keponakan kami tetap menunjukkan bahwa aku dan istriku adalah orang tuanya sebenarnya. Keponakan kami juga telah mengatakan pada anakku bahwa aku dan istriku bekerja di istana.”
Data di atas menunjukkan adanya aktivitas sosial yaitu dengan saling menghargai, tolong menolong dan saling membutuhkan sesama manusia dalam berinteraksi.
2) Aktivitas Politik
“Para begundal yang korup dan suka memeras menjadi pelindung istana sehingga rakyat selalu menjadi pihak yang kalah.”
Data di atas menunjukkan aktivitas politik dimana para penguasa istana dengan bangganya bertindak semena-mena kepada rakyat kalangan bawah.
B) Subjek Kolektif
Menurut Goldmann (dalam Saraswati, 2000: 77) yang menentang anggapan Freud yang lebih menekankan subjek sebagai subjek individual seperti tampak pada peran libido dalam struktur kepribadian. Subjek kolektif atau trans-individual merupakan konsep yang masih sangat kabur. Subjek kolektif itu dapat berupa kelompok kekerabatan, kelompok sekerja, kelompok teritorial, dan sebagainya. Subjek kolektif itulah yang merupakan subjek karya sastra yang besar.

    1. Status Masyarakat Kelas Atas
Menurut Weber (dalamWorsley,1992: 192) bahwa kita bisa menerima dan menolak orang-orang sebagai sejajr, lebih rendah atau lebih tinggi secara social, tidak hanya atas dasar kedudukan ekonomi mereka, tetapi atas dasar kedudukan sosial mereka secara keseluruhan.
Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Keluarga istana memang berkuasa tanpa batas. Tempat-tempat penting telah dimilikinya dengan berbagai cara. Harta dan nyawa, bumi dan air, dan seluruh kekayaan di dalamnya tak ubahnya milik istana. Penduduk yang menolak pasti akan raib diganyang para begundal. Secara turun temurun penguasa istana menjadikan diri mereka sebagai dewa-dewa. Konon, baginda yang memegang tahta sekarang dikendalikan oleh ibundanya. Ibunda bagindalah yang sebenarnya berkuasa. Ibunda baginda, karena tidak mungkin memegang tahta tertinggi, meminjam tangan baginda untuk memuaskan ambisinya. Ibunda baginda juga dikenal pendendam dan angkuh. Tapi istana tetaplah istana. Para begundal yang korup dan suka memeras menjadi pelindung istana sehingga rakyat selalu menjadi pihak yang kalah. Anjing-anjing istana juga berkeliaran memangsa ayam, kambing, dan berbagai binatang piaraan penduduk. Sepertinya anjing lebih dimuliakan oleh istana daripada penduduk.”
  2. Status Masyarakat Kelas bawah
Peter Worsley (1992: 187) mengatakan bahwa status mengacu pada cara bagimana distribusi secara tidak sama, sehingga orang-orang pada tingkatan-tingkat struktur sosial berbeda dipisahkan dari mereka yang berbeda di bawahnya, dan dari “atasan-atasan” berpikir, bertindak dan merasakan yang diterima oleh para anggota dan juga orang-orang luar, yaitu apa yang biasanya disebut “perbedaan kelas”. Hal ini dapat dilihat pada data berikut:

“Aku adalah bagian dari pasukan penjaga istana. Tak boleh baa-basi pada siapapun di sana. Tata cara tertulis dengan tinta yang tak mungkin diubah. Kaku kayak tembaga. Aku harus berdiri tegak seperti patung di gerbang tua. Menunggu waktu usai jaga, memeram dahaga dan jenuh yang melimpah. Aku bukanlah orang yang hanya bisa curiga pada istana, sebab tiap hari aku memang di sana sebagai saksi sejarah.”
“Masa kecilku yang indah terlalu segar dalam kepala. Kuingin putriku pun bisa menikmatinya. Tapi istana telah merampas sebelum hidupku jadi paripurna. Akulah sang prajurit muda. Masuk ke lingkaran istana untuk menjadi penjaga dan mengamankan tahta. Taka da yang mampu menolak, sebab istana merasa punya hak untuk mempekerjakan siapa saja yang dikehendakinya. Penolakan adalah pembangkangan luar biasa dan dinilai anti istana. Nyawa menjadi taruhannya.”
 
C) Pandangan Dunia
     Pandangan dunia adalah fakta hitoris dan sosial, yang merupakan keseluruhan cara berfikir, perasaan dan tindakan dimana pada situasi tertentu membuat manusia menemukan diri mereka dalam situasi ekonomi dan sosial yang sama pada kelompok sosial tertentu.
    Pandangan dunia atau world vition yang ditampilkan dalam cerpen “Jangan ke Istana, Anakku” adalah banyaknya perbedaan strata sosial yang terjadi di tengah masyarakat dan masih berlakunya tindakan atau penindasan terhadap masyarakat bawah. Dan juga ketikadilan bagi masyarakat kelas bawah atas perlakuan dari masyarakat kelas atas yang bertindak semena-mena. Dan juga para begandal korup yang yang suka memeras sehingga membuat rakyat menjadi pihak yang kalah. Dalam cerpen “Jangan ke Istana, Anakku” pengarang mengekspresikan pandangannya yaitu kebebasan. Di mana kebebasan dengan hidup sederhana dan tak banyak aturan.



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Suatu karya sastra tercipta tidak dalam kekosongan sosial budaya, artinya, pengarang tidak dengan tiba-tiba mendapat berkah misterius, kemudian dengan elegannya mencipta suatu karya sastra. Konsep Dasar Strukturalisme Genetik Goldmannsikan oleh Goldmann, berpijak pada pandangan bahwa karya sastra adalah sebuah struktur yang bersifat dinamis karena merupakan produk sejarah dan budaya yang berlangsung secara terus menerus.
Untuk menopang teorinya, menurut Faruk (12), Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling berkaitan satu sama lain sehingga membentuk strukturalisme genetik. Kategori-kategori tersebut adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan

  


Daftar Pustaka

Anwar, M. Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan: Pustaka Ilalang
Iwan, sugianto. 2013. Strukturalisme Genetik. Dalam
Mariyanh. 2010. Analisis Strukturalisme. Dalam
Alfismamda. 2013. Analisis Strukturalisme. Dalam








Minggu, 21 Mei 2017

Teori Struktural dalam Cerpen "Pesta Keluarga"

 Teori Struktural (Unsur Intrinsik)

Dalam menganalisis sebuah karya sastra, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengkaji sebuah karya sastra. Setelah proses mengkaji tersebut selesai, muncullah konsep yang dinamakan teori sastra / teori struktural sastra. Teori struktural sastra adalah sebuah teori sastra yang digunakan untuk menganalisis sebuah karya sastra tertentu yang dimana sebagai objek kajiannya adalah sistem sastra itu sendiri, yaitu seperangkat konvensi yang abstrak dan umum yang mengatur hubungan berbagai unsur dalam teks sastra sehingga unsur-unsur tersebut berkaitan satu sama lain dalam keseluruhan yang utuh.
Adapun unsur dalam teks sastra yang dimaksud adalah seperti unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun dari dalam pada sebuah cerita.Sedangkan, pengertian dari unsur ekstrinsik adalah unsur dari luar pada sebuah cerita, meskipun bearasal dari luar unsur ekstrinsik juga berpengaruh dan dibutuhkan untuk membangun sebuah cerita agar terlihat lebih hidup.
Berikut akan dibahas lebih rinci tentang bagian apa saja yang terdapat dalam unsur intrinsik:
a.       Tema
Tema adalah gagasan utama/pikiran pokok.Tema merupakan pokok pembicaraan yang mendasari cerita.Tema bersifat menjiwai keseluruhan cerita dan mempunyai generalisasi yang umum, oleh karena itu, untuk menemukan tema sebuah karya fiksi harus disimpulkan dari seluruh cerita, tak hanya bagian-bagian tertentu dari cerita.Tema sebagai salah satu unsur fiksi sangat berkaitan erat dengan unsur-unsur yang lainnya.
b.      Penokohan dan watak
Penokohohan adalah pelaku pada sebuah cerita.Tiap-tiap tokoh biasanya memiliki watak, sikap, sifat, dan kondisi fisik sendiri-sendiri.Sedangkan watak adalah pemberian sifat pada pelaku-pelaku cerita. Sifat yang diberikan akan tercermin pada pikiran, ucapan, dan pandangan tokoh terhadap sesuatu.
c.       Alur
Alur adalah rangkaian peristiwa yang membentuk sebuah cerita. Bagian-bagian alur adalah sebagai berikut:
1.      Tahap penyituasian atau pengantar/pengenalan
Tahap pembuka cerita atau pemberian informasi awal, terutama berfungsi untuk melandasi cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya.
2.      Tahap pemunculan konflik
Tahap awal munculnya konflik.Konflik dapat berkembang pada tahap berikutnya.Peristiwa-peristiwa yang menjadi inti cerita semakin mencengangkan dan menegangkan.
3.      Tahap klimaks
Konflik-konflik yang terjadi atau ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai titik intensitas puncak.
4.      Tahap peleraian
Penyelesaian pada klimaks, ketegangan dikendurkan, konflik-konflik tambahan diberi jalan keluar, kemudian cerita diakhiri, disesuaikan dengan tahap akhir diatas.
5.      Tahap penyelesaian
Konflik sudah diatasi/diselesaikan oleh tokoh.Cerita dapat diakhiri dengan gembira atau sedih.
d.      Latar
Latar merupakan keterangan yang menyebutkan waktu, ruang dan suasana terjadinya peristiwa pada sebuah karya sastra. Jenis-jenis latar:
1.      Latar waktu
Keterangan tentang kapan peristiwa itu terjadi.Misal, pagi, siang, sore, malam.
2.      Latar tempat
Keterangan tempat peristiwa itu terjadi.Missal dirumah, disekolah.
3.      Latar suasana
Latar suasana menggambarkan peristiwa yang terjadi.Misal, gembira, sedih, romantis.
e.       Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah penggunaan bahasa yang dapat menghidupakan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu.
f.        Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang berupa pemecahan atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada dalam cerita.
g.      Sudut Pandang
Sudut pandang merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu.
            Setelah mengetahui bagian apa saja yang terdapat dalam unsur intrinsik, berikut akan dibahas dalam contoh sebuah cerpen yang berjudul ”Pesta Keluarga”.
Tema :
Tema yang digunakan dalam cerpen ini adalah “Nasib tukang angkot dan segumpal daging”
Tema tersebut diambil karena nasib yang dialami Pak Rais selama menjadi supir angkot, entah itu saat Pak Rais mengeluh karena keadaan penumpangnya yang sepi ataupun penghasilan yang didapat. Selain itu juga, suatu hari Pak Rais mendapatkan sesuatu dari angkotnya. Semula dikira itu adalah sesuatu yang baik yang di dapat, namun sayang ternyata tidak, justru malah mendatangkan penyakit bagi keluarganya setelah memakannya.
Penokohan dan watak :
·         Pak Rais
-          Mudah tersinggung
“Aku manggut-manggut. Omongan perempuan itu makin membuatku kecut…”(Anwar, 2017:98)
-          Mudah mengeluh
“Sial, perempuan ini turun menjelang rute berakhir.Ini berarti aku harus menjalankan terus bemo ini hingga beberapa kilometer lagi.Tak bisa mangkal untuk menunggu penumpang terlalu lama.” (Anwar, 2017:98)
-          Bertanggung jawab
“Ini tanggung jawabku”
“Nggak enak ah”
Aku tetap mempertahankan daging itu.Tapi, hingga pukul satu siang, belum juga ada yang menanyakan. Padahal aku sudah melewati rute dan mangkal di tempat yang sama. (Anwar, 2017:100)
-          Mudah terpengaruh
“…Ada rasa tidak nyaman, tapi, di sisi lain, muncul juga rasa senang.” (Anwar, 2017:100)
“…Tak ada pilihan lain, aku akhirnya menurut saja pada kehendak mereka.”
“Tolong ada yang dibuat empal,” aku akhirnya punya usulan juga. (Anwar, 2017:101)
-          Jujur
“Tapi ini milik orang” aku menjawab lagi. (Anwar, 2017:100)
“Tapi itu bukan milik kita,” aku menyela. (Anwar, 2017:101)
-          Mudah putus asa
“…Aku menerawang ke langit-langit. Terlintas juga dalam pikiranku untuk mencari pekerjaan lain. Sopir bemo semakin lama semakin tidak memiliki harapan.” (Anwar, 2017:101)
-          Tidak sabar
“…Para sopir, termasuk aku tentunya, sering terlibat pertengkaran karena rebutan penumpang. Tempo hari bahkan kami nyaris tawuran dengan pengemudi bus kota karena rebutan jalur. Lahan kami makin sempit.” (Anwar, 2017:101-102)
-          Ramah
“Mari masuk, mbak” aku mempersilahkan sang tamu. (Anwar, 2017:104)
·         Penumpang bemo
-          Ramah
“Sepi,” katanya sambil kipas-kipas mengusir udara panas dan debu.(Anwar, 2017:97)
·         Markasan
-          Ingin tau
“Matang apa mentah?” Tanya Markasan. (Anwar, 2017:100)
·         Pardi
-          Egois
“Kalau tidak berani aku saja yang bawa,” Pardi menyodorkan tangannya. (Anwar, 2017:100)
·         Hadi
-          Ingin tau
“Daging apa?” (Anwar, 2017:100)
·         Bagio
-          Humoris
“Daging istri Hadi sudah kisut,” Bagio menambahkan celetukan.Tertawaan mereka makin ramai. (Anwar, 2017:100)
·         Istrinya Pak Rais
-          Polos
“Wah cocok untuk rawon, kata istriku ketika memerikasa daging dalam kotak yang aku sodorkan. (Anwar, 2017:101)
-          Serakah
“Masih banyak, nanti malam kita makan lagi” istriku menenangkan. (Anwar, 2017:104)
·         Neti
-          Polos
“Gulai” usul Neti anak perempuanku. (Anwar, 2017:101)
·         Andi dan Rudi
-          Polos
“Aku minta sate” kata Andi.
“Aku juga” Rudi ikut-ikutan. (Anwar, 2017:101)
-          Serakah
“… Mulut Rudi terlihat penuh.Tangan kirinya memegang tiga tusuk sate.Meski begitu, matanya masih jelalatan mengawasi gulai di mangkuk yang kembali aku ciduk.Istriku manggut-manggut sambil mengeremus daging.” (Anwar, 2017:103)
“Nanti aku makan lagi,” kata Andi.
“Aku juga” Rudi menyahut. (Anwar, 2017:104)
·         Mahasiswa
-          Teledor
“…Kami juga ingin mengadakan penelitian lebih lanjut. Tapi, Pak, eee… bahan yang akan kami teliti tadi apa tertinggal di bemo Bapak?” (Anwar, 2017:105)
-          Jujur
“Bukan daging, Pak. Itu adalah tumor yang telah kami ambil.” (Anwar, 2017:105)

Alur :
Alur yang digunakan dalam cerpen ini adalah alur maju, itu berarti jalan ceritanya tidak dominan membahas masa lampau.
a.       Tahap pengenalan
“Pukul sepuluh, bagi pengemudi bemo atau mikrolet, adalah jam mati.Penumpang sudah mulai sepi. Mereka yang berangkat ke kantor, para buruh, pekerja kasar, anak-anak sekolah, serta mereka yang berbelanja ke pasar sudah pada nyampai di tempatnya. Jalanan sudah mulai agak sepi….” (Anwar, 2017:97)
“Bemo yang aku kemudikan akhirnya sampai di dekat stasiun.Satu-satunya penumpang itu turun juga dan berjalan minggir ke tempat yang teduh.” (Anwar, 2017:99)
b.      Tahap pemunculan konflik
“Bu, barangnya ketinggalan!” aku memanggilnya agak keras.” (Anwar, 2017:99)
“Ada orang mencari barangnya yang ketinggalan di bemo?” tanyaku pada teman-teman sopir di pangkalan.” (Anwar, 2017:100)
“Aku tetap mempertahankan daging itu.Tapi, hingga pukul satu siang, belum juga ada yang menanyakan. Padahal aku sudah melewati rute dan mangkal di tempat yang sama. Aku khawatir, jika dibiarkan tentu daging itu akan membusuk dan baunya bisa menyebar….” (Anwar, 2017:100)

c.       Tahap klimaks
“Begini, Pak,” tamu yang cantik itu melanjutkan, “kami adalah mahasiswa kedokteran,.Sudah dua minggu kami ikut praktik di rumah sakit bagian bedah.Kami juga ingin mengadakan penelitian lebih lanjut. Tapi, Pak, eee… bahan yang akan kami teliti tadi apa tertinggal di bemo Bapak?”
Aku agak gugup.Bagaimana harus menjawabnya.
“Eee… tidak,” aku menggeleng-geleng.
“Maaf, Pak. Barangnya tidak berharga.Tapi itu sangat kami perlukan.Kami telah mengumpulkannya selama dua minggu.Ada dalam tas plastik warna putih.”
“Apa barangnya itu?” aku pura-pura bertanya.
“Begini, Pak. Banyak orang menderita penyakit dalam tubuhnya.Ada yang di bawah kulit, di otak, kandungan, rahim, payudara, usus, dan lainnya. Kami ingin meneliti penyakit itu”
“Ya ya… terus?”
“Nah, hasil operasi dari semua operasi tadi apa tertinggal di bemo Bapak?”
“Eee…,” aku terdiam beberapa lama. “Eee… daging…?”
“Bukan daging, Pak. Itu adalah tumor yang telah kami ambil.”
“Tu…tumor…?” aku meremas mulut.
“Ya, Pak, yang mirip daging dalam tas plastik putih itu adalah tumor.” (Anwar, 2017:105)
d.      Tahap peleraian
“Huuuek!” isi perutku pun menyembul keluar.Tumpah dan meluber ke lantai.
“Huuuek!” istriku kembali muntah, lalu disusul lagi oleh anak-anak.
“Haaaiiik!”
“Kreezzz!”
“Khrruuuek!”
Kami sekeluarga muntah bersamaan.Rasanya tak bisa berhenti. Semua isi perut memberontak keluar… (Anwar, 2017:106)

Latar :
·         Latar tempat
-          Tempat mangkal oprasi bemo
“…Itulah sebabnya banyak sopir yang memilih mangkal tidak beroperasi atau pulang. Mereka akan kembali mencari penumpang ketika sore hari saat para pekerja beranjak pulang.” (Anwar, 2017:97)
“Ada orang mencari barangnya yang ketinggalan di bemo?” tanyaku pada teman-teman sopir di pangkalan. (Anwar, 2017:100)



-          Dapur rumah Pak Rais
“…Tak lama setelah itu ada bau daging terbakar. Ini mungkin anak-anak lagi membuat sate.Aku beranjak ke dapur. Ternyata benar, Neti sedang membakar sate di depan pintu belakang.” (Anwar, 2017:102)
-          Di meja makan rumah Pak Rais
“Sore itu, tidak seperti biasanya, kami makan lebih awal.Mumpung semua masih hangat.Kami sudah duduk berkeliling di meja makan.” (Anwar, 2017:103)
“…Terlihat istri dan ketiga anakku muntah-muntah dengan wajah merah padam. Muntahannya meluber di meja makan.” (Anwar, 2017:105)
-          Ruang tamu rumah Pak Rais
“Mari masuk, Mbak,” aku mempersilakan sang tamu. (Anwar, 2017:104)
·         Latar waktu
-          Siang hari
“Sepi” katanya sambil kipas-kipas udara panas dan debu kemarau. (Anwar, 2017:97)
“Tambah siang udara makin panas dan berdebu.Penumpang masih tetap satu orang.” (Anwar, 2017:98)
-          Sore hari
“Sore itu, tidak seperti biasanya, kami makan lebih awal.”(Anwar, 2017:103)
·         Latar suasana
-          Gelisah
“Aku tetap mempertahankan daging itu.Tapi, hingga pukul satu siang, belum juga ada yang menanyakan. Padahal aku sudah melewati rute dan mangkal di tempat yang sama. Aku khawatir, jika dibiarkan tentu daging itu akan membusuk dan baunya bisa menyebar. Aku pun terpaksa membawa daging itu pulang.” (Anwar, 2017:100)
-          Gembira
“Wah cocok untuk rawon,” kata istriku ketika memeriksa daging dalam kotak yang aku sodorkan.Wajahnya tampak berbinar-binar.
“Mereka tampak gembira dengan daging itu.Istriku segera membawanya ke dapur.” (Anwar, 2017:101)
-          Gugup
“Aku agak gugup.Bagaimana harus menjawabnya.”
“Eee… tidak,” aku menggeleng-geleng.
“Apa barangnya itu?” aku pura-pura bertanya. (Anwar, 2017:105)

Gaya bahasa :
Gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen yang berjudul “Pesta Keluarga” ini adalah menggunakan Majas Retorik dan Majas Personifikasi. Pengertian dari majas retorik sendiri adalah majas yang berupa kalimat tanya namun tak memerlukan jawaban. Berikut bentuk kutipan majas retorik dalam cerpen “Pesta Keluarga” terdapat pada kalimat “Mana mungkin aku ingat jumlah dan wajahnya?” (Anwar, 2017:99)
Majas Personifikasi adalah majas yang membandingkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia. Berikut bentuk kutipan majas personifikasi pada cerpen “Pesta Keluarga” terdapat pada kalimat “…Wajahnya tampak berbinar-binar” (Anwar, 2017:101)
Selain itu juga, bahasa yang digunakan dalam cerpen “Pesta Keluarga” adalah bahasa yang sering digunakan sehari-hari sehingga lebih mudah dipahami.
Amanat :
-          Jangan mudah terpengaruh dengan keadaan
-          Hendaknya tidak menggunakan barang yang bukan milik kita
-          Bersikaplah lebis sabar dalam menghadapi keadaan
-          Jangan menilai sesuatu itu baik padahal belum jelas asal usulnya
Sudut pandang :
Dalam cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama.Sebab penulis lebih banyak menggunakan kata “aku” dan seolah-olah penulis menggambarkan dirinya pada cerita tesebut.Seperti contoh dalam kutipan “Aku berusaha mengingat-ingat siapa saja penumpang yang duduk di dekatku dari tadi.” (Anwar, 2017:99)


Daftar Pustaka

Anwar, M. Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan: PustakaIlalang.
Rosana, Dewi dan Gunawan Budi Santoso. 2015. Bahasa Indonesia. Sidoarjo: Masmedia.

Rohmatullah. 2013. Pengertian Majas, Contoh & Macam-macam Majas. http://rohmatullahh.blogspot.co.id/2013/09/PengertianMajasContohMacam-macamMajas.html# (diakses pada tanggal 1 April 2017)