MENGANALISIS
CERPEN MENGGUNAKAN TEORI POSKOLONIAL GENETIK
Dosen
Pembimbing
Dr.
M. Shoim Anwar M.Pd
Oleh
:
Tugas
individu PBSI-B/2016
SRI
WULAN PANGESTU 165200079
UNIVERSITAS
PGRI ADI BUANA SURABAYA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SURABAYA
2017
BAB
1
PENDAHULUAN
Karya sastra mengungkapkan nilai-nilai sejarah yang ada pada
masyarakat tertentu. Dalam hal ini, pengarang sebagai pencipta karya sastra
tentu merupakan bagian dari masyarakat yang menggambarkan sejarah melalui karya
sastranya.
Tak dapat dipungkiri bahwa postkolonial merupakan sebuah
wacana yang sangat menarik dan menantang. Melalui teks masyarakat postkolonial
mampu mengekspresikan dan menemukan sarana resistensinya yang tajam. Menurut
Foulcher dan Day (2008:4) postkolonial adalah salah satu kritik sastra yang
mengkaji atau menyelidiki karya sastra tentang tanda-tanda atau pengaruh
kolonial. Unsur-unsur postkolonial dapat ditemukan dalam karya satra seperti
cerpen, puisi, novel dan drama.
Poskolonial adalah pendekatan poststruktural yang diterapkan
pada topik khusus. Kajian postkolonial, dengan sendiri tidak akan melupakan
aspek-aspek kolonial, yaitu “penjajah” dan “terjajah”. Kolonialisme
mengonstruksi masyarakat pribumi menurut kehendak dan tujuan-tujuan
kekuasaannya. Teori poskolonial sangat relevan dalam kaitannya dengan kritik
lintas budaya sekaligus wacana yang ditimbulkannya. Tema-tema yang dikaji
sangat luas dan beragam, diantaranya: politik, ideologi, agama, pendidikan,
sejarah, antropologi kesenian etnisitas, bahasa dan sastra, sekaligus dengan
bentuk praktik dilapangan, seperti perbudakan, pendudukan, pemindahan penduduk,
pemaksaan bahasa, dan berbagai bentuk invasi kultural yang lain.
BAB II
PEMBAHASAN
Konsep Bhaba
mengenai postkolonialisme bahwa penjajah itu seperti Max Havelar yang
melahirkan politik etis di Indonesia. Baik dari konsep Said maupun Bhaba,
konsep dari poskolonial bermuara pada lost identity atau kehilangan jati
dirinya, baik dalam orientalisme, mimikri, maupun hibriditi. Faruk (2007:6) menyatakan bahwa tindakan masyarakat terjajah
dalam melakukan peniruan ada kemungkinan mengejek penjajah karena mereka tidak
melakukan peniruan dengan sepenuhnya setia pada model yang ditawarkan penjajah.
Tokoh raksasa dalam
cerpen ini juga memainkan peran yang tak kalah pentingnya dari tokoh aku/win
yaitu tokoh utamanya. Bahwa raksasa itu menjajah manusia dengan lumpurnya. Hal
itu dibuktikan dengan kutipan berikt ini:
“Dalam waktu yang sangat cepat, tanggul demi tanggul ambrol
diterjang lumpur panas itu. Desa kami dilahap satu demi satu. Seperti monster
cair yang melalap sasarannya sambal merayap ke segala arah. Maka korban pun
terus berjatuhan.”(halaman 167)
“Raksasa itu semakin membesar. Kini kami semua menjadi
sasarannya. Raksasa itu hendak menguasai tubuh-tubuh kami. Sawah-sawah dan
lading kami telah dihabiskan. Ternak-ternak kami dilalapnya. Rumah kami jadi
musnah.”(halaman 171)
Dan juga adanya
hegemoni kuasa yaitu raksasa yang melukai tokoh keluarga aku/win hingga sang
mertua, ibu timas tewas. Dan seperti pada kutipan:
“Di tengah perjalanan, terjadi ledakan hebat di dekat kami.
Pipa gas yang tertimbun lumpur panas itu meledak karena kemunculan sang raksasa
dari perut bumi. Bunga api menyambar dan meluluhlantahkan tempat di sekitarnya.
Kami terpental. Aku dan anakku masih mampu bangkit. Timas luka parah. Sedangkan
sang mertua, ibu Timas, tewas dan tubuhnya robek-robek menjadi santapan sang
raksasa.” (halaman 175)
Pada cerpen
“Dalam Kejaran Sang Raksasa” karya M. Shoim Anwar. Terdapat dua biner yaitu
penjajah dan dijajah. Dijelaskan bahwa penjajah terdapat pada raksasa/lumpur
panas dan yang di jajah terdapat pada tokoh timas, marsinah, dan ibu timas. Dan
juga yang selalu terjajah dalam cerpen tersebut selalu perempuan. Terdapat pada
kutipan:
“Tapi sayang, nasib Marsinah berakhir dengan tragis sebelum
perjuangannya tercapai secara merata. Dia dijegal di Tugu Kuning saat pulang
bersama Timas. Marsinah berteriak minta tolong. Timas tak kuasa karena sang
raksasa membetotnya dengan cepat. Marsinah dibunuh dan dimangsa oleh sang
raksasa itu.” (halaman 173)
”Aku dan anakku masih mampu bangkit. Timas luka parah.
Sedangkan sang mertua, ibu Timas, tewas dan tubuhnya robek-robek menjadi
santapan sang raksasa.”(halaman 175)
Dalam kutipan tersebut sudah jelas bahwa selalu kaum
perempuan yang terjajah. Walaupun dalam cerpen tersebut juga ada laki-laki yang
terjajah yaitu tokoh aku/win tapi masih dominan yang terjajah adalah kaum
perempuan.
BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Secara
umum postkolonial dipahami sebagai teori, wacana, dan istilah yang digunakan
untuk memahami masyarakat bekas jajahan, terutama sesudah berakhirnya imperium
kolonialisme modern. Berdasarkan pemaparan yang telah saya bahas dapat di
simpulkan bahwa poskolonial yaitu cara pandang ‘barat” terhadap “timur”. Selama
ini “barat” selalu mengasosiasikan diri mereka sebagai kelompok yang logis,
maju, dan superior sementara “timur” selalu dipandang oleh barat sebagai
kelompok yang kuno, tidak berpendidikan dan lemah.
Kajian
postkolonial, dengan sendiri tidak akan melupakan aspek-aspek kolonial, yaitu
“penjajah” dan “terjajah”. Jadi, dapat disimpulkan yaitu pada cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa”
terdapat dua biner yang berbeda, menjajah dan dijajah, warga yang dijajah
sedangkan raksasa yang menjajah.
Daftar
Pustaka
Anwar, M. Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan: CV Pustaka Ilalang
ja’far.(2011).poskolonialisme. Dalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar