Senin, 24 Juli 2017

Teori sastra tugas UAS (Teori Poskolonial)

MENGANALISIS CERPEN MENGGUNAKAN TEORI POSKOLONIAL GENETIK
Dosen Pembimbing
Dr. M. Shoim Anwar M.Pd



Oleh :

Tugas individu PBSI-B/2016

SRI WULAN PANGESTU             165200079

UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SURABAYA
2017






BAB 1
PENDAHULUAN
     Karya sastra mengungkapkan nilai-nilai sejarah yang ada pada masyarakat tertentu. Dalam hal ini, pengarang sebagai pencipta karya sastra tentu merupakan bagian dari masyarakat yang menggambarkan sejarah melalui karya sastranya.
   Tak dapat dipungkiri bahwa postkolonial merupakan sebuah wacana yang sangat menarik dan menantang. Melalui teks masyarakat postkolonial mampu mengekspresikan dan menemukan sarana resistensinya yang tajam. Menurut Foulcher dan Day (2008:4) postkolonial adalah salah satu kritik sastra yang mengkaji atau menyelidiki karya sastra tentang tanda-tanda atau pengaruh kolonial. Unsur-unsur postkolonial dapat ditemukan dalam karya satra seperti cerpen, puisi, novel dan drama.
  Poskolonial adalah pendekatan poststruktural yang diterapkan pada topik khusus. Kajian postkolonial, dengan sendiri tidak akan melupakan aspek-aspek kolonial, yaitu “penjajah” dan “terjajah”. Kolonialisme mengonstruksi masyarakat pribumi menurut kehendak dan tujuan-tujuan kekuasaannya. Teori poskolonial sangat relevan dalam kaitannya dengan kritik lintas budaya sekaligus wacana yang ditimbulkannya. Tema-tema yang dikaji sangat luas dan beragam, diantaranya: politik, ideologi, agama, pendidikan, sejarah, antropologi kesenian etnisitas, bahasa dan sastra, sekaligus dengan bentuk praktik dilapangan, seperti perbudakan, pendudukan, pemindahan penduduk, pemaksaan bahasa, dan berbagai bentuk invasi kultural yang lain.






BAB II
PEMBAHASAN
     Konsep Bhaba mengenai postkolonialisme bahwa penjajah itu seperti Max Havelar yang melahirkan politik etis di Indonesia. Baik dari konsep Said maupun Bhaba, konsep dari poskolonial bermuara pada lost identity atau kehilangan jati dirinya, baik dalam orientalisme, mimikri, maupun hibriditi. Faruk (2007:6) menyatakan bahwa tindakan masyarakat terjajah dalam melakukan peniruan ada kemungkinan mengejek penjajah karena mereka tidak melakukan peniruan dengan sepenuhnya setia pada model yang ditawarkan penjajah.
     Tokoh raksasa dalam cerpen ini juga memainkan peran yang tak kalah pentingnya dari tokoh aku/win yaitu tokoh utamanya. Bahwa raksasa itu menjajah manusia dengan lumpurnya. Hal itu dibuktikan dengan kutipan berikt ini:
“Dalam waktu yang sangat cepat, tanggul demi tanggul ambrol diterjang lumpur panas itu. Desa kami dilahap satu demi satu. Seperti monster cair yang melalap sasarannya sambal merayap ke segala arah. Maka korban pun terus berjatuhan.”(halaman 167)
“Raksasa itu semakin membesar. Kini kami semua menjadi sasarannya. Raksasa itu hendak menguasai tubuh-tubuh kami. Sawah-sawah dan lading kami telah dihabiskan. Ternak-ternak kami dilalapnya. Rumah kami jadi musnah.”(halaman 171)
     Dan juga adanya hegemoni kuasa yaitu raksasa yang melukai tokoh keluarga aku/win hingga sang mertua, ibu timas tewas. Dan seperti pada kutipan:
“Di tengah perjalanan, terjadi ledakan hebat di dekat kami. Pipa gas yang tertimbun lumpur panas itu meledak karena kemunculan sang raksasa dari perut bumi. Bunga api menyambar dan meluluhlantahkan tempat di sekitarnya. Kami terpental. Aku dan anakku masih mampu bangkit. Timas luka parah. Sedangkan sang mertua, ibu Timas, tewas dan tubuhnya robek-robek menjadi santapan sang raksasa.” (halaman 175)
     Pada cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” karya M. Shoim Anwar. Terdapat dua biner yaitu penjajah dan dijajah. Dijelaskan bahwa penjajah terdapat pada raksasa/lumpur panas dan yang di jajah terdapat pada tokoh timas, marsinah, dan ibu timas. Dan juga yang selalu terjajah dalam cerpen tersebut selalu perempuan. Terdapat pada kutipan:
“Tapi sayang, nasib Marsinah berakhir dengan tragis sebelum perjuangannya tercapai secara merata. Dia dijegal di Tugu Kuning saat pulang bersama Timas. Marsinah berteriak minta tolong. Timas tak kuasa karena sang raksasa membetotnya dengan cepat. Marsinah dibunuh dan dimangsa oleh sang raksasa itu.” (halaman 173)
”Aku dan anakku masih mampu bangkit. Timas luka parah. Sedangkan sang mertua, ibu Timas, tewas dan tubuhnya robek-robek menjadi santapan sang raksasa.”(halaman 175)
Dalam kutipan tersebut sudah jelas bahwa selalu kaum perempuan yang terjajah. Walaupun dalam cerpen tersebut juga ada laki-laki yang terjajah yaitu tokoh aku/win tapi masih dominan yang terjajah adalah kaum perempuan.




BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Secara umum postkolonial dipahami sebagai teori, wacana, dan istilah yang digunakan untuk memahami masyarakat bekas jajahan, terutama sesudah berakhirnya imperium kolonialisme modern. Berdasarkan pemaparan yang telah saya bahas dapat di simpulkan bahwa poskolonial yaitu cara pandang ‘barat” terhadap “timur”. Selama ini “barat” selalu mengasosiasikan diri mereka sebagai kelompok yang logis, maju, dan superior sementara “timur” selalu dipandang oleh barat sebagai kelompok yang kuno, tidak berpendidikan dan lemah.
Kajian postkolonial, dengan sendiri tidak akan melupakan aspek-aspek kolonial, yaitu “penjajah” dan “terjajah”. Jadi, dapat disimpulkan yaitu  pada cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” terdapat dua biner yang berbeda, menjajah dan dijajah, warga yang dijajah sedangkan raksasa yang menjajah.



  



Daftar Pustaka

Anwar, M. Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan: CV Pustaka Ilalang
ja’far.(2011).poskolonialisme. Dalam




Tidak ada komentar:

Posting Komentar