Senin, 12 Juni 2017

menganalisis cerpen menggunakan teori poskolonial

BAB 1
PENDAHULUAN

       Karya sastra mengungkapkan nilai-nilai sejarah yang ada pada masyarakat tertentu. Dalam hal ini, pengarang sebagai pencipta karya sastra tentu merupakan bagian dari masyarakat yang menggambarkan sejarah melalui karya sastranya. Menurut Endraswara (2011: 178) bahwa karya sastra yang dilahirkan oleh pengarang yang sekaligus pejuang, pelaku sejarah, dengan pengarang sebagai pengamat sejarah akan memiliki nuansa yang berbeda. Apalagi kalau pengarang demikian sekadar “membaca sejarah “, lalu mencipta karya-karya berbau kolonial, tentunya akan berdimensi lain. Karya-karya demikian, perlu didekati dari kajian postkolonial, agar terungkap apa yang ada di balik karya tersebut.
        Kajian postkolonial, dengan sendiri tidak akan melupakan aspek-aspek kolonial, yaitu “penjajah” dan “terjajah”. Pada wilayah praktis, penciptaan wacana kolonial sama sekali meniadakan subjek terjajah. Wacana kolonial menarasikan masyarakat pribumi, seolah menulis di atas kertas kosong tentang masyarakat yang sama sekali belum ditandai. Kolonial memberi nama, mencirikan, dan mengkaji masyarakat terjajah dalam kerangka kerja dan aturan-aturan yang telah mereka tentukan. Mereka memiliki otoritas penuh untuk menciptakan gambaran masyarakat pribumi. Kolonialisme mengonstruksi masyarakat pribumi menurut kehendak dan tujuan-tujuan kekuasaannya.
        Teori poskolonial sangat relevan dalam kaitannya dengan kritik lintas budaya sekaligus wacana yang ditimbulkannya. Tema-tema yang dikaji sangat luas dan beragam, diantaranya: politik, ideologi, agama, pendidikan, sejarah, antropologi kesenian etnisitas, bahasa dan sastra, sekaligus dengan bentuk praktik dilapangan, seperti perbudakan, pendudukan, pemindahan penduduk, pemaksaan bahasa, dan berbagai bentuk invasi kultural yang lain.
      Dalam makalah ini, cerpen dengan judul “Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” menceritakan tentang seorang istri Pak Lurah yang dirumorkan bahwa ada tahi lalat di dadanya. Dan permasalahan tersebut tersebar luas. Ditambah lagi dengan masalah tanah dari kas desa yang akan dijadikan perumahan oleh Pak Lurah. Dalam hal tersebut, warga merasa dirampas haknya dan tokoh Aku tidak terima. Pada tahap pembangunan tokoh Aku dan beberapa rekannya menghentikan proses tahap pembangunan tersebut. Semakin mendekati masa pendaftran calon lurah, disamping soal penjualan tanah kas desa, beita adanya tahi lalat di dada istri Pak Lurah tidak menyurut, tapi semakin hari malah semakin menyebar luas dan melebih-lebihkan isu tersebut.
     Dengan demikian, cerpen tersebut sangat cocok apabila dikaitkan dengan analisis  teori postcolonial. Karena pada teori poskolonial ini bicara soal penjajah dan yang terjajah dalam masa kolonial dan sesudahnya, terutama karena tema tersebut tak relevan lagi, sebab sudah terlalu banyak jenis-jenis penjajahan baru. Inti dari kritik postkolonial atas kolonialisme adalah tidak dalam bentuk ‘fisik penjajahan’, melainkan juga dalam bangunan wacana dan pengetahuan (bahkan bahasa).

  
BAB II
PEMBAHASAN
      Secara umum postkolonial dipahami sebagai teori, wacana, dan istilah yang digunakan untuk memahami masyarakat bekas jajahan, terutama sesudah berakhirnya imperium kolonialisme modern. Dalam pengertian yang lebih luas, postkolonial juga mengacu pada objek sebelum dan pada saat terjadinya kolonialisme. Oleh sebab itu, Nyoman Kutha Ratna dalam bukunya, Postkolonialisme Indonesia Relevansi Sastra (2008:81—82) mengemukakan lima pokok pengertian postkolonial, yaitu (1) menaruh perhatian untuk menganalisis era kolonial, (2) memiliki kaitan erat dengan nasionalisme, (3) memperjuangkan narasi kecil, menggalang kekuatan dari bawah, sekaligus belajar dari masa lampau untuk menuju masa depan, (4) membangkitkan kesadaran bahwa penjajahan bukan semata-mata dalam bentuk fisik, melainkan juga psikis, dan (5) bukan semata-mata teori, melainkan kesadaran bahwa banyak pekerjaan besar yang harus dilakukan, seperti memerangi imperalisme, orientalisme, rasialisme, dan berbagai bentuk hegemoni lainnya.
      Faruk (2007:6) menyatakan bahwa tindakan masyarakat terjajah dalam melakukan peniruan ada kemungkinan mengejek penjajah karena mereka tidak melakukan peniruan dengan sepenuhnya setia pada model yang ditawarkan penjajah.
Kajian postkolonial, dengan sendiri tidak akan melupakan aspek-aspek kolonial, yaitu “penjajah” dan “terjajah”. Dalam cerpen “Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” istri pak lurah adalah yang terjajah, hal tersebut dibuktikan dengan kutipan berikut:

“Jelaslah sekarang, bahwa berita adanya tahi lalat di dada istri Pak Lurah itu telah beranak-pinak, dikait-kaitkan dengan banyak hal. Teriakan-teriakan mereka dapat disimpulkan dengan mudah. Kini istri Pak Lurah itu diejek dan diolok-olok, citranya direndahkan.” (halaman 12)

“Orang-orang berdehem, pura-pura batuk ketika ada istri Pak lurah lewat. Mereka yang berpapasan menyempatkan tersenyum dan menyapa basa-basi. Tapi, di belakang dari arah istri Pak Lurah, orang-orang itu memberi isyarat gerakan membuat gelembung di dadanya, kemudian menuding-nudingkan telunjuk ke dadanya sebelah kiri. Maksudnya jelas, di payudara sebelah kiri istri Pak Lurah yang montok itu ada tahi lalatnya.” (halaman 15)

       Dan juga pada cerpen “Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” warga juga merasa tertindas dengan haknya dirampas oleh Pak Lurah dan Pak Bayan dan dibuktikan dengan kutipan berikut:
”Secara jujur kukatakan, Pak Lurah juga sering menggunakan cara-cara kotor dan menjijikkan. Selama menjabat, tidak sedikit warga yang kehilangan sawah ladangnya dan berganti dengan perumahan mewah. Warga yang tanahnya strategis, melalui Pak Bayan atau sekretaris desa, dirayu untuk menjual tanahnya dengan harga yang lumayan mahal. Begitu tanah-tanah yang strategis itu terlepas dari pemiliknya, Pak Lurah semakin gencar membujuk yang lain dengan cara memanggilnya ke kantor kelurahan. Aku sangat yakin keuntunganberlipat didapatkan Pak Lurah dari persentase diam-diam antara dia dengan pihak pembeli. Lihatlah, Pak Lurah dan Pak Bayan makin kaya dari hari ke hari.” (halaman 17)

Dalam cerpen tersebut juga ada ada hubungan sosial-budaya, itu terdapat pada kutipan
“Menurut Primbon Jawa, wanita yang memiliki tahi lalat di payudara sebelah kiri itu disenangi banyak orang dan pandai menghibur. Dan satu lagi yang penting….,” Bakrul menghentikan omongannya. Matanya mendelik sambal mengancungkan telunjuknya. Dia berhenti beberapa jurus menunggu reaksi kami.
“Apa itu?” aku menyambungnya
“Nafsu gininya besar,” jawab Bakrul sambal menjepit jempol dengan telunjuk dan jari tengahnya. “Masuk akal kan kalau skandal ini bisa terjadi?” (halaman 16)




 BAB III
PENUTUP
SIMPULAN

    Secara umum postkolonial dipahami sebagai teori, wacana, dan istilah yang digunakan untuk memahami masyarakat bekas jajahan, terutama sesudah berakhirnya imperium kolonialisme modern. Berdasarkan pemaparan yang telah saya bahas dapat di simpulkan bahwa poskolonial yaitu cara pandang ‘barat” terhadap “timur”. Selama ini “barat” selalu mengasosiasikan diri mereka sebagai kelompok yang logis, maju, dan superior sementara “timur” selalu dipandang oleh barat sebagai kelompok yang kuno, tidak berpendidikan dan lemah.
     Kajian postkolonial, dengan sendiri tidak akan melupakan aspek-aspek kolonial, yaitu “penjajah” dan “terjajah”. Jadi, dapat disimpulkan yaitu  pada cerpen “Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” terdapat dua biner yang berbeda, menjajah dan dijajah, istri Pak Lurah dijajah sedangkan Pak Lurah yang menjajah warga.





 Daftar Pustaka

Anwar, M. Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan: CV Pustaka Ilalang
Fazil abdulah.(t.th).teori postkolonial. Dalam
ja’far.(2011).poskolonialisme. Dalam



Tidak ada komentar:

Posting Komentar