BAB 1
PENDAHULUAN
Karya sastra mengungkapkan nilai-nilai sejarah yang ada pada
masyarakat tertentu. Dalam hal ini, pengarang sebagai pencipta karya sastra
tentu merupakan bagian dari masyarakat yang menggambarkan sejarah melalui karya
sastranya. Menurut Endraswara (2011: 178) bahwa karya sastra yang dilahirkan
oleh pengarang yang sekaligus pejuang, pelaku sejarah, dengan pengarang sebagai
pengamat sejarah akan memiliki nuansa yang berbeda. Apalagi kalau pengarang
demikian sekadar “membaca sejarah “, lalu mencipta karya-karya berbau kolonial,
tentunya akan berdimensi lain. Karya-karya demikian, perlu didekati dari kajian
postkolonial, agar terungkap apa yang ada di balik karya tersebut.
Kajian postkolonial, dengan sendiri tidak akan melupakan
aspek-aspek kolonial, yaitu “penjajah” dan “terjajah”. Pada wilayah praktis, penciptaan
wacana kolonial sama sekali meniadakan subjek terjajah. Wacana kolonial
menarasikan masyarakat pribumi, seolah menulis di atas kertas kosong tentang
masyarakat yang sama sekali belum ditandai. Kolonial memberi nama, mencirikan,
dan mengkaji masyarakat terjajah dalam kerangka kerja dan aturan-aturan yang
telah mereka tentukan. Mereka memiliki otoritas penuh untuk menciptakan
gambaran masyarakat pribumi. Kolonialisme mengonstruksi masyarakat pribumi
menurut kehendak dan tujuan-tujuan kekuasaannya.
Teori poskolonial sangat relevan
dalam kaitannya dengan kritik lintas budaya sekaligus wacana yang
ditimbulkannya. Tema-tema yang dikaji sangat luas dan beragam, diantaranya:
politik, ideologi, agama, pendidikan, sejarah, antropologi kesenian etnisitas,
bahasa dan sastra, sekaligus dengan bentuk praktik dilapangan, seperti
perbudakan, pendudukan, pemindahan penduduk, pemaksaan bahasa, dan berbagai
bentuk invasi kultural yang lain.
Dalam makalah
ini, cerpen dengan judul “Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” menceritakan
tentang seorang istri Pak Lurah yang dirumorkan bahwa ada tahi lalat di
dadanya. Dan permasalahan tersebut tersebar luas. Ditambah lagi dengan masalah
tanah dari kas desa yang akan dijadikan perumahan oleh Pak Lurah. Dalam hal
tersebut, warga merasa dirampas haknya dan tokoh Aku tidak terima. Pada tahap
pembangunan tokoh Aku dan beberapa rekannya menghentikan proses tahap
pembangunan tersebut. Semakin mendekati masa pendaftran calon lurah, disamping
soal penjualan tanah kas desa, beita adanya tahi lalat di dada istri Pak Lurah
tidak menyurut, tapi semakin hari malah semakin menyebar luas dan
melebih-lebihkan isu tersebut.
Dengan demikian,
cerpen tersebut sangat cocok apabila dikaitkan dengan analisis teori postcolonial. Karena pada teori
poskolonial ini bicara soal penjajah dan yang terjajah dalam masa kolonial dan
sesudahnya, terutama karena tema tersebut tak relevan lagi, sebab sudah terlalu
banyak jenis-jenis penjajahan baru. Inti dari kritik postkolonial atas
kolonialisme adalah tidak dalam bentuk ‘fisik penjajahan’, melainkan juga dalam
bangunan wacana dan pengetahuan (bahkan bahasa).
BAB II
PEMBAHASAN
Secara umum postkolonial dipahami sebagai
teori, wacana, dan istilah yang digunakan untuk memahami masyarakat bekas
jajahan, terutama sesudah berakhirnya imperium kolonialisme modern. Dalam
pengertian yang lebih luas, postkolonial juga mengacu pada objek sebelum dan
pada saat terjadinya kolonialisme. Oleh sebab itu, Nyoman Kutha Ratna dalam
bukunya, Postkolonialisme Indonesia Relevansi Sastra (2008:81—82) mengemukakan
lima pokok pengertian postkolonial, yaitu (1) menaruh perhatian untuk
menganalisis era kolonial, (2) memiliki kaitan erat dengan nasionalisme, (3)
memperjuangkan narasi kecil, menggalang kekuatan dari bawah, sekaligus belajar
dari masa lampau untuk menuju masa depan, (4) membangkitkan kesadaran bahwa
penjajahan bukan semata-mata dalam bentuk fisik, melainkan juga psikis, dan (5)
bukan semata-mata teori, melainkan kesadaran bahwa banyak pekerjaan besar yang
harus dilakukan, seperti memerangi imperalisme, orientalisme, rasialisme, dan
berbagai bentuk hegemoni lainnya.
Faruk (2007:6) menyatakan bahwa tindakan masyarakat terjajah
dalam melakukan peniruan ada kemungkinan mengejek penjajah karena mereka tidak
melakukan peniruan dengan sepenuhnya setia pada model yang ditawarkan penjajah.
Kajian postkolonial, dengan sendiri tidak akan melupakan
aspek-aspek kolonial, yaitu “penjajah” dan “terjajah”. Dalam cerpen “Tahi Lalat
di Dada Istri Pak Lurah” istri pak lurah adalah yang terjajah, hal tersebut
dibuktikan dengan kutipan berikut:
“Jelaslah
sekarang, bahwa berita adanya tahi lalat di dada istri Pak Lurah itu telah
beranak-pinak, dikait-kaitkan dengan banyak hal. Teriakan-teriakan mereka dapat
disimpulkan dengan mudah. Kini istri Pak Lurah itu diejek dan diolok-olok,
citranya direndahkan.” (halaman 12)
“Orang-orang
berdehem, pura-pura batuk ketika ada istri Pak lurah lewat. Mereka yang
berpapasan menyempatkan tersenyum dan menyapa basa-basi. Tapi, di belakang dari
arah istri Pak Lurah, orang-orang itu memberi isyarat gerakan membuat gelembung
di dadanya, kemudian menuding-nudingkan telunjuk ke dadanya sebelah kiri.
Maksudnya jelas, di payudara sebelah kiri istri Pak Lurah yang montok itu ada
tahi lalatnya.” (halaman 15)
Dan juga pada cerpen “Tahi Lalat di Dada
Istri Pak Lurah” warga juga merasa tertindas dengan haknya dirampas oleh Pak
Lurah dan Pak Bayan dan dibuktikan dengan kutipan berikut:
”Secara
jujur kukatakan, Pak Lurah juga sering menggunakan cara-cara kotor dan
menjijikkan. Selama menjabat, tidak sedikit warga yang kehilangan sawah
ladangnya dan berganti dengan perumahan mewah. Warga yang tanahnya strategis,
melalui Pak Bayan atau sekretaris desa, dirayu untuk menjual tanahnya dengan
harga yang lumayan mahal. Begitu tanah-tanah yang strategis itu terlepas dari
pemiliknya, Pak Lurah semakin gencar membujuk yang lain dengan cara
memanggilnya ke kantor kelurahan. Aku sangat yakin keuntunganberlipat
didapatkan Pak Lurah dari persentase diam-diam antara dia dengan pihak pembeli.
Lihatlah, Pak Lurah dan Pak Bayan makin kaya dari hari ke hari.” (halaman 17)
Dalam
cerpen tersebut juga ada ada hubungan sosial-budaya, itu terdapat pada kutipan
“Menurut
Primbon Jawa, wanita yang memiliki tahi lalat di payudara sebelah kiri itu
disenangi banyak orang dan pandai menghibur. Dan satu lagi yang penting….,”
Bakrul menghentikan omongannya. Matanya mendelik sambal mengancungkan
telunjuknya. Dia berhenti beberapa jurus menunggu reaksi kami.
“Apa
itu?” aku menyambungnya
“Nafsu
gininya besar,” jawab Bakrul sambal menjepit jempol dengan telunjuk dan jari
tengahnya. “Masuk akal kan kalau skandal ini bisa terjadi?” (halaman 16)
BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Secara umum postkolonial dipahami sebagai
teori, wacana, dan istilah yang digunakan untuk memahami masyarakat bekas
jajahan, terutama sesudah berakhirnya imperium kolonialisme modern. Berdasarkan
pemaparan yang telah saya bahas dapat di simpulkan bahwa poskolonial yaitu cara
pandang ‘barat” terhadap “timur”. Selama ini “barat” selalu mengasosiasikan
diri mereka sebagai kelompok yang logis, maju, dan superior sementara “timur”
selalu dipandang oleh barat sebagai kelompok yang kuno, tidak berpendidikan dan
lemah.
Kajian postkolonial, dengan sendiri tidak
akan melupakan aspek-aspek kolonial, yaitu “penjajah” dan “terjajah”. Jadi,
dapat disimpulkan yaitu pada cerpen
“Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” terdapat dua biner yang berbeda, menjajah
dan dijajah, istri Pak Lurah dijajah sedangkan Pak Lurah yang menjajah warga.
Daftar
Pustaka
Anwar, M. Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan: CV Pustaka Ilalang
Fazil abdulah.(t.th).teori postkolonial. Dalam
ja’far.(2011).poskolonialisme. Dalam