Teori Struktur Puisi
Puisi sebagai salah sebuah karya seni sastra dapat dikaji dari berbagai macam
aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi
itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana
kepuitisan. Begitu juga, puisi dapat dikaji dari sudut kesejarahannya,
mengingat bahwa sepanjang sejarahnya, dari waktu ke waktu puisi selalu ditulis
dan selalu dibaca orang. Shahnon Ahmad (1978: 3) mengumpulkan definisi-definisi
puisi yang dikemukakan oleh penyair romantic Inggris. Menurut Samuel Taylor
Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan
yang terindah. Menurut Carlyle, puisi merupakan pemikiran yang bersifat
musikal. Menurut Wordsworth, puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif,
yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun pendapat dari Auden,
puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur, sedangkan
menurut Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran
manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama.
Jadi, puisi itu mengekspresikan pemikiran yang
membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi pancaindra dalam susunan yang
berirama. Semua itu merupakan sesuatu yang penting, yang direkam dan
diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan memberi kesan. Puisi itu merupakan
rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud
yang paling berkesan. Selain pengertian puisi, kalian juga perlu memahami
struktur puisi. Adapun struktur puisi dibagi menjadi dua:
a) Struktur Fisik
1. Diksi, yaitu pemilihan kata yang dilakukan oleh
penyair dalam puisinya.
2. Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang
dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan
perasaan.
3. Kata konkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indra yang
memungkinkan munculnya imaji.
4. Gaya bahasa (bahasa figurative), yaitu penggunaan bahasa yang
dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu.
5. Rima/irama, yaitu persamaan bunyi pada puisi,
baik diawal, tengah, dan akhir baris puisi.
b) Struktur Batin
1. Tema/makna: media puisi adalah bahasa. Tataran
bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik
makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
2. Rasa, yaitu sikap penyair terhadap pokok
permasalahan yang terdapat dalam puisinya.
3. Nada, yaitu sikap penyair terhadap pembacanya.
Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema
dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan
masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong,
menganggap bodoh dan rendah pembaca.
4. Amanat/tujuan/maksud, yaitu pesan yang ingin
disampaikan penyair kepada pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Pradopo, Rachmat Djoko.
2014. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah
Mada University
Press
Rosana, Dewi dan Gunawan
Budi Santoso. 2015. Bahasa Indonesia.
Sidoarjo: Masmedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar