Senin, 12 Juni 2017

menganalisis cerpen menggunakan teori strukturalisme genetik

 BAB 1
PENDAHULUAN
      Suatu karya sastra tercipta tidak dalam kekosongan sosial budaya, artinya, pengarang tidak dengan tiba-tiba mendapat berkah misterius, kemudian dengan elegannya mencipta suatu karya sastra. Suatu karya sastra tercipta lebih merupakan hasil pengalaman, pemikiran, refleksi, dan rekaman budaya pengarang terhadap sesuatu hal yang terjadi dalam dirinya sendiri, dan masyarakat.
      Untuk menganalisis sebuah karya sastra dapat dilakukan dengan pendekatan-pendekatan, ataupun teori-teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Salah satunya konsep dasar strukturalisme Genetik yang dikonseptualisasikan oleh Goldmann. Strukturalisme genetic Goldmann merupakan pendekatan sastra yang bergerak dari teks sebagai focus yang otonom menuju faktor-faktor yang bersifat ekstrinsik di luar teks, yaitu penulis sebagai subjek kolektif suatu masyarakat. Harus diakui, konsep Goldmann ini dipengaruhi oleh teori sosial sastra Marx yang mengonseptualisasikan: a)Sastra merupakan sebuah fenomena zaman, b)Sastra adalah refleksi kehidupan pengarang pada masanya, c)Sastra adalah produk eksternal yang dipengaruhi oleh latar belakang sejarah dan sosial tertentu.
      Konsep Dasar Strukturalisme Genetik Goldmannsikan oleh Goldmann, berpijak pada pandangan bahwa karya sastra adalah sebuah struktur yang bersifat dinamis karena merupakan produk sejarah dan budaya yang berlangsung secara terus menerus (Faruk, 2010: 56). Kedinamisasian struktur sastra ini terbentuk karena relasi genetiknya, yaitu hubungan dialektis antara penulis dengan masyarakat. Penulis adalah individu yang menjadi anggota masyarakat. Masyarakat menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya visi dunia yang berdialog dengan penulis, sehingga kondisi masyarakat berperan besar dalam membentuk visi dunia penulis.
Pendekatan strukturalisme berusaha meneliti teks sastra dari segi sturktur, dengan melihat komponen-komponen yang membangun dan hubungan antar komponen tersebut. Setelah mendapatkan kesatuaan dan keutuhan teks, lalu dicari hubungannya dengan aspek sosio-budaya yang melatarbelakanginya. Dari penghubungan inilah sastra diharapkan makna teks sastra dapat dikonkritkan. Strukturalisme genetik mendiskripsikan pendekatannya dengan dua prinsip pokok, yaitu strukturalisme dan genetik. Pengertian strukturalisme dikoreksi dengan memaksukan faktor genetik di dalam pemahaman sastra.







BAB II
PEMBAHASAN

      Pecetus pendekatan strukturalisme genetik adalah Lucien Goldman seorang ahli sastra perancis. Teori Lucien Goldman didasarkan pandangan yang dikemukakan oleh George Luckas. Prinsip-prinsip pendekatan strukturalisme genetik adalah: (1) ciri khas studi sastra adalah mulai dari kesatuan, koheresi, dan konsepsional; (2) dalam menganalisis, struktur sastra harus diteleti secara cermat oleh pembaca dengan sifat otonom dan imajinernnya; (3) makna karya sastra mewakili pandangan dunia penulis sebagai wakil kelompok masyarakat tertentu; dan (4) genetik karya sastra adalah penulis dan latar belakang struktur sosial (kenyataan sejarah) karya sastra tersebut (Damono,1979: 42).
     Untuk menopang teorinya, menurut Faruk (12), Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling berkaitan satu sama lain sehingga membentuk strukturalisme genetik. Kategori-kategori tersebut adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan.
A) Fakta Kemanusiaan
Menurut Faruk (1999: 12) mengatakan bahwa Fakta kemanusiaan adalah segala aktivitas atau perilaku manusia baik yang verbal maupun yang fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Fakta itu dapat berwujud aktivitas sosial tertentu, aktivitas politik tertentu , kreasi kultural.
1) Aktivitas Sosial
“Anakku benar-benar hidup sendirian setelah ibunya diganyang istana. Dia akhirnya diasuh keponakan kami, dibawa ketempat yang jauh, di luar wilayah kekuasaan istana. Anakku disekolahkan dan hidup dalam keluarga berada.”
“Aku bersyukur bahwa keponakan kami tetap menunjukkan bahwa aku dan istriku adalah orang tuanya sebenarnya. Keponakan kami juga telah mengatakan pada anakku bahwa aku dan istriku bekerja di istana.”
Data di atas menunjukkan adanya aktivitas sosial yaitu dengan saling menghargai, tolong menolong dan saling membutuhkan sesama manusia dalam berinteraksi.
2) Aktivitas Politik
“Para begundal yang korup dan suka memeras menjadi pelindung istana sehingga rakyat selalu menjadi pihak yang kalah.”
Data di atas menunjukkan aktivitas politik dimana para penguasa istana dengan bangganya bertindak semena-mena kepada rakyat kalangan bawah.
B) Subjek Kolektif
Menurut Goldmann (dalam Saraswati, 2000: 77) yang menentang anggapan Freud yang lebih menekankan subjek sebagai subjek individual seperti tampak pada peran libido dalam struktur kepribadian. Subjek kolektif atau trans-individual merupakan konsep yang masih sangat kabur. Subjek kolektif itu dapat berupa kelompok kekerabatan, kelompok sekerja, kelompok teritorial, dan sebagainya. Subjek kolektif itulah yang merupakan subjek karya sastra yang besar.

    1. Status Masyarakat Kelas Atas
Menurut Weber (dalamWorsley,1992: 192) bahwa kita bisa menerima dan menolak orang-orang sebagai sejajr, lebih rendah atau lebih tinggi secara social, tidak hanya atas dasar kedudukan ekonomi mereka, tetapi atas dasar kedudukan sosial mereka secara keseluruhan.
Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Keluarga istana memang berkuasa tanpa batas. Tempat-tempat penting telah dimilikinya dengan berbagai cara. Harta dan nyawa, bumi dan air, dan seluruh kekayaan di dalamnya tak ubahnya milik istana. Penduduk yang menolak pasti akan raib diganyang para begundal. Secara turun temurun penguasa istana menjadikan diri mereka sebagai dewa-dewa. Konon, baginda yang memegang tahta sekarang dikendalikan oleh ibundanya. Ibunda bagindalah yang sebenarnya berkuasa. Ibunda baginda, karena tidak mungkin memegang tahta tertinggi, meminjam tangan baginda untuk memuaskan ambisinya. Ibunda baginda juga dikenal pendendam dan angkuh. Tapi istana tetaplah istana. Para begundal yang korup dan suka memeras menjadi pelindung istana sehingga rakyat selalu menjadi pihak yang kalah. Anjing-anjing istana juga berkeliaran memangsa ayam, kambing, dan berbagai binatang piaraan penduduk. Sepertinya anjing lebih dimuliakan oleh istana daripada penduduk.”
  2. Status Masyarakat Kelas bawah
Peter Worsley (1992: 187) mengatakan bahwa status mengacu pada cara bagimana distribusi secara tidak sama, sehingga orang-orang pada tingkatan-tingkat struktur sosial berbeda dipisahkan dari mereka yang berbeda di bawahnya, dan dari “atasan-atasan” berpikir, bertindak dan merasakan yang diterima oleh para anggota dan juga orang-orang luar, yaitu apa yang biasanya disebut “perbedaan kelas”. Hal ini dapat dilihat pada data berikut:

“Aku adalah bagian dari pasukan penjaga istana. Tak boleh baa-basi pada siapapun di sana. Tata cara tertulis dengan tinta yang tak mungkin diubah. Kaku kayak tembaga. Aku harus berdiri tegak seperti patung di gerbang tua. Menunggu waktu usai jaga, memeram dahaga dan jenuh yang melimpah. Aku bukanlah orang yang hanya bisa curiga pada istana, sebab tiap hari aku memang di sana sebagai saksi sejarah.”
“Masa kecilku yang indah terlalu segar dalam kepala. Kuingin putriku pun bisa menikmatinya. Tapi istana telah merampas sebelum hidupku jadi paripurna. Akulah sang prajurit muda. Masuk ke lingkaran istana untuk menjadi penjaga dan mengamankan tahta. Taka da yang mampu menolak, sebab istana merasa punya hak untuk mempekerjakan siapa saja yang dikehendakinya. Penolakan adalah pembangkangan luar biasa dan dinilai anti istana. Nyawa menjadi taruhannya.”
 
C) Pandangan Dunia
     Pandangan dunia adalah fakta hitoris dan sosial, yang merupakan keseluruhan cara berfikir, perasaan dan tindakan dimana pada situasi tertentu membuat manusia menemukan diri mereka dalam situasi ekonomi dan sosial yang sama pada kelompok sosial tertentu.
    Pandangan dunia atau world vition yang ditampilkan dalam cerpen “Jangan ke Istana, Anakku” adalah banyaknya perbedaan strata sosial yang terjadi di tengah masyarakat dan masih berlakunya tindakan atau penindasan terhadap masyarakat bawah. Dan juga ketikadilan bagi masyarakat kelas bawah atas perlakuan dari masyarakat kelas atas yang bertindak semena-mena. Dan juga para begandal korup yang yang suka memeras sehingga membuat rakyat menjadi pihak yang kalah. Dalam cerpen “Jangan ke Istana, Anakku” pengarang mengekspresikan pandangannya yaitu kebebasan. Di mana kebebasan dengan hidup sederhana dan tak banyak aturan.



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Suatu karya sastra tercipta tidak dalam kekosongan sosial budaya, artinya, pengarang tidak dengan tiba-tiba mendapat berkah misterius, kemudian dengan elegannya mencipta suatu karya sastra. Konsep Dasar Strukturalisme Genetik Goldmannsikan oleh Goldmann, berpijak pada pandangan bahwa karya sastra adalah sebuah struktur yang bersifat dinamis karena merupakan produk sejarah dan budaya yang berlangsung secara terus menerus.
Untuk menopang teorinya, menurut Faruk (12), Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling berkaitan satu sama lain sehingga membentuk strukturalisme genetik. Kategori-kategori tersebut adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan

  


Daftar Pustaka

Anwar, M. Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan: Pustaka Ilalang
Iwan, sugianto. 2013. Strukturalisme Genetik. Dalam
Mariyanh. 2010. Analisis Strukturalisme. Dalam
Alfismamda. 2013. Analisis Strukturalisme. Dalam








Tidak ada komentar:

Posting Komentar