BAB
1
PENDAHULUAN
Suatu karya
sastra tercipta tidak dalam kekosongan sosial budaya, artinya, pengarang tidak
dengan tiba-tiba mendapat berkah misterius, kemudian dengan elegannya mencipta suatu
karya sastra. Suatu karya sastra tercipta lebih merupakan hasil pengalaman,
pemikiran, refleksi, dan rekaman budaya pengarang terhadap sesuatu hal yang
terjadi dalam dirinya sendiri, dan masyarakat.
Untuk
menganalisis sebuah karya sastra dapat dilakukan dengan pendekatan-pendekatan,
ataupun teori-teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Salah satunya konsep
dasar strukturalisme Genetik yang dikonseptualisasikan oleh Goldmann.
Strukturalisme genetic Goldmann merupakan pendekatan sastra yang bergerak dari
teks sebagai focus yang otonom menuju faktor-faktor yang bersifat ekstrinsik di
luar teks, yaitu penulis sebagai subjek kolektif suatu masyarakat. Harus
diakui, konsep Goldmann ini dipengaruhi oleh teori sosial sastra Marx yang
mengonseptualisasikan: a)Sastra merupakan sebuah fenomena zaman, b)Sastra
adalah refleksi kehidupan pengarang pada masanya, c)Sastra adalah produk
eksternal yang dipengaruhi oleh latar belakang sejarah dan sosial tertentu.
Konsep Dasar Strukturalisme
Genetik Goldmannsikan oleh Goldmann, berpijak pada pandangan bahwa karya sastra
adalah sebuah struktur yang bersifat dinamis karena merupakan produk sejarah
dan budaya yang berlangsung secara terus menerus (Faruk, 2010: 56). Kedinamisasian
struktur sastra ini terbentuk karena relasi genetiknya, yaitu hubungan
dialektis antara penulis dengan masyarakat. Penulis adalah individu yang
menjadi anggota masyarakat. Masyarakat menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya
visi dunia yang berdialog dengan penulis, sehingga kondisi masyarakat berperan
besar dalam membentuk visi dunia penulis.
Pendekatan strukturalisme berusaha meneliti teks sastra dari
segi sturktur, dengan melihat komponen-komponen yang membangun dan hubungan
antar komponen tersebut. Setelah mendapatkan kesatuaan dan keutuhan teks, lalu
dicari hubungannya dengan aspek sosio-budaya yang melatarbelakanginya. Dari
penghubungan inilah sastra diharapkan makna teks sastra dapat dikonkritkan.
Strukturalisme genetik mendiskripsikan pendekatannya dengan dua prinsip pokok,
yaitu strukturalisme dan genetik. Pengertian strukturalisme dikoreksi dengan
memaksukan faktor genetik di dalam pemahaman sastra.
BAB
II
PEMBAHASAN
Pecetus
pendekatan strukturalisme genetik adalah Lucien Goldman seorang ahli sastra
perancis. Teori Lucien Goldman didasarkan pandangan yang dikemukakan oleh
George Luckas. Prinsip-prinsip pendekatan strukturalisme genetik adalah: (1)
ciri khas studi sastra adalah mulai dari kesatuan, koheresi, dan konsepsional; (2)
dalam menganalisis, struktur sastra harus diteleti secara cermat oleh pembaca
dengan sifat otonom dan imajinernnya; (3) makna karya sastra mewakili pandangan
dunia penulis sebagai wakil kelompok masyarakat tertentu; dan (4) genetik karya
sastra adalah penulis dan latar belakang struktur sosial (kenyataan sejarah)
karya sastra tersebut (Damono,1979: 42).
Untuk menopang teorinya, menurut Faruk (12), Goldmann membangun
seperangkat kategori yang saling berkaitan satu sama lain sehingga membentuk strukturalisme
genetik. Kategori-kategori tersebut adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif,
strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan.
A) Fakta Kemanusiaan
Menurut Faruk (1999: 12) mengatakan bahwa Fakta kemanusiaan
adalah segala aktivitas atau perilaku manusia baik yang verbal maupun yang
fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Fakta itu dapat berwujud
aktivitas sosial tertentu, aktivitas politik tertentu , kreasi kultural.
1) Aktivitas Sosial
“Anakku benar-benar hidup
sendirian setelah ibunya diganyang istana. Dia akhirnya diasuh keponakan kami,
dibawa ketempat yang jauh, di luar wilayah kekuasaan istana. Anakku
disekolahkan dan hidup dalam keluarga berada.”
“Aku bersyukur bahwa
keponakan kami tetap menunjukkan bahwa aku dan istriku adalah orang tuanya
sebenarnya. Keponakan kami juga telah mengatakan pada anakku bahwa aku dan
istriku bekerja di istana.”
Data di atas menunjukkan
adanya aktivitas sosial yaitu dengan saling menghargai, tolong menolong dan
saling membutuhkan sesama manusia dalam berinteraksi.
2) Aktivitas Politik
“Para begundal yang korup
dan suka memeras menjadi pelindung istana sehingga rakyat selalu menjadi pihak
yang kalah.”
Data di atas menunjukkan
aktivitas politik dimana para penguasa istana dengan bangganya bertindak
semena-mena kepada rakyat kalangan bawah.
B) Subjek Kolektif
Menurut Goldmann (dalam Saraswati, 2000: 77) yang menentang
anggapan Freud yang lebih menekankan subjek sebagai subjek individual seperti
tampak pada peran libido dalam struktur kepribadian. Subjek kolektif atau
trans-individual merupakan konsep yang masih sangat kabur. Subjek kolektif itu
dapat berupa kelompok kekerabatan, kelompok sekerja, kelompok teritorial, dan
sebagainya. Subjek kolektif itulah yang merupakan subjek karya sastra yang
besar.
1. Status Masyarakat Kelas Atas
Menurut Weber (dalamWorsley,1992: 192) bahwa kita bisa
menerima dan menolak orang-orang sebagai sejajr, lebih rendah atau lebih tinggi
secara social, tidak hanya atas dasar kedudukan ekonomi mereka, tetapi atas
dasar kedudukan sosial mereka secara keseluruhan.
Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:
Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Keluarga istana memang
berkuasa tanpa batas. Tempat-tempat penting telah dimilikinya dengan berbagai
cara. Harta dan nyawa, bumi dan air, dan seluruh kekayaan di dalamnya tak
ubahnya milik istana. Penduduk yang menolak pasti akan raib diganyang para
begundal. Secara turun temurun penguasa istana menjadikan diri mereka sebagai
dewa-dewa. Konon, baginda yang memegang tahta sekarang dikendalikan oleh ibundanya.
Ibunda bagindalah yang sebenarnya berkuasa. Ibunda baginda, karena tidak
mungkin memegang tahta tertinggi, meminjam tangan baginda untuk memuaskan
ambisinya. Ibunda baginda juga dikenal pendendam dan angkuh. Tapi istana
tetaplah istana. Para begundal yang korup dan suka memeras menjadi pelindung
istana sehingga rakyat selalu menjadi pihak yang kalah. Anjing-anjing istana
juga berkeliaran memangsa ayam, kambing, dan berbagai binatang piaraan
penduduk. Sepertinya anjing lebih dimuliakan oleh istana daripada penduduk.”
2. Status
Masyarakat Kelas bawah
Peter Worsley (1992: 187) mengatakan bahwa status mengacu
pada cara bagimana distribusi secara tidak sama, sehingga orang-orang pada
tingkatan-tingkat struktur sosial berbeda dipisahkan dari mereka yang berbeda
di bawahnya, dan dari “atasan-atasan” berpikir, bertindak dan merasakan yang
diterima oleh para anggota dan juga orang-orang luar, yaitu apa yang biasanya
disebut “perbedaan kelas”. Hal ini dapat dilihat pada data berikut:
“Aku adalah bagian dari
pasukan penjaga istana. Tak boleh baa-basi pada siapapun di sana. Tata cara
tertulis dengan tinta yang tak mungkin diubah. Kaku kayak tembaga. Aku harus
berdiri tegak seperti patung di gerbang tua. Menunggu waktu usai jaga, memeram
dahaga dan jenuh yang melimpah. Aku bukanlah orang yang hanya bisa curiga pada
istana, sebab tiap hari aku memang di sana sebagai saksi sejarah.”
“Masa kecilku yang indah
terlalu segar dalam kepala. Kuingin putriku pun bisa menikmatinya. Tapi istana
telah merampas sebelum hidupku jadi paripurna. Akulah sang prajurit muda. Masuk
ke lingkaran istana untuk menjadi penjaga dan mengamankan tahta. Taka da yang
mampu menolak, sebab istana merasa punya hak untuk mempekerjakan siapa saja
yang dikehendakinya. Penolakan adalah pembangkangan luar biasa dan dinilai anti
istana. Nyawa menjadi taruhannya.”
C) Pandangan Dunia
Pandangan dunia adalah fakta hitoris dan
sosial, yang merupakan keseluruhan cara berfikir, perasaan dan tindakan dimana
pada situasi tertentu membuat manusia menemukan diri mereka dalam situasi
ekonomi dan sosial yang sama pada kelompok sosial tertentu.
Pandangan dunia atau world vition yang
ditampilkan dalam cerpen “Jangan ke Istana, Anakku” adalah banyaknya perbedaan
strata sosial yang terjadi di tengah masyarakat dan masih berlakunya tindakan
atau penindasan terhadap masyarakat bawah. Dan juga ketikadilan bagi masyarakat
kelas bawah atas perlakuan dari masyarakat kelas atas yang bertindak
semena-mena. Dan juga para begandal korup yang yang suka memeras sehingga
membuat rakyat menjadi pihak yang kalah. Dalam cerpen “Jangan ke Istana,
Anakku” pengarang mengekspresikan pandangannya yaitu kebebasan. Di mana
kebebasan dengan hidup sederhana dan tak banyak aturan.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Suatu karya sastra tercipta tidak dalam kekosongan sosial budaya,
artinya, pengarang tidak dengan tiba-tiba mendapat berkah misterius, kemudian
dengan elegannya mencipta suatu karya sastra. Konsep Dasar Strukturalisme
Genetik Goldmannsikan oleh Goldmann, berpijak pada pandangan bahwa karya sastra
adalah sebuah struktur yang bersifat dinamis karena merupakan produk sejarah
dan budaya yang berlangsung secara terus menerus.
Untuk menopang teorinya, menurut Faruk (12), Goldmann
membangun seperangkat kategori yang saling berkaitan satu sama lain sehingga
membentuk strukturalisme genetik. Kategori-kategori tersebut adalah fakta
kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan
penjelasan
Daftar
Pustaka
Anwar,
M. Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri
Pak Lurah. Lamongan: Pustaka Ilalang
Iwan, sugianto. 2013.
Strukturalisme Genetik. Dalam
Mariyanh.
2010. Analisis Strukturalisme. Dalam
Alfismamda. 2013.
Analisis Strukturalisme. Dalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar