Minggu, 21 Mei 2017

Teori Struktural dalam Cerpen "Pesta Keluarga"

 Teori Struktural (Unsur Intrinsik)

Dalam menganalisis sebuah karya sastra, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengkaji sebuah karya sastra. Setelah proses mengkaji tersebut selesai, muncullah konsep yang dinamakan teori sastra / teori struktural sastra. Teori struktural sastra adalah sebuah teori sastra yang digunakan untuk menganalisis sebuah karya sastra tertentu yang dimana sebagai objek kajiannya adalah sistem sastra itu sendiri, yaitu seperangkat konvensi yang abstrak dan umum yang mengatur hubungan berbagai unsur dalam teks sastra sehingga unsur-unsur tersebut berkaitan satu sama lain dalam keseluruhan yang utuh.
Adapun unsur dalam teks sastra yang dimaksud adalah seperti unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun dari dalam pada sebuah cerita.Sedangkan, pengertian dari unsur ekstrinsik adalah unsur dari luar pada sebuah cerita, meskipun bearasal dari luar unsur ekstrinsik juga berpengaruh dan dibutuhkan untuk membangun sebuah cerita agar terlihat lebih hidup.
Berikut akan dibahas lebih rinci tentang bagian apa saja yang terdapat dalam unsur intrinsik:
a.       Tema
Tema adalah gagasan utama/pikiran pokok.Tema merupakan pokok pembicaraan yang mendasari cerita.Tema bersifat menjiwai keseluruhan cerita dan mempunyai generalisasi yang umum, oleh karena itu, untuk menemukan tema sebuah karya fiksi harus disimpulkan dari seluruh cerita, tak hanya bagian-bagian tertentu dari cerita.Tema sebagai salah satu unsur fiksi sangat berkaitan erat dengan unsur-unsur yang lainnya.
b.      Penokohan dan watak
Penokohohan adalah pelaku pada sebuah cerita.Tiap-tiap tokoh biasanya memiliki watak, sikap, sifat, dan kondisi fisik sendiri-sendiri.Sedangkan watak adalah pemberian sifat pada pelaku-pelaku cerita. Sifat yang diberikan akan tercermin pada pikiran, ucapan, dan pandangan tokoh terhadap sesuatu.
c.       Alur
Alur adalah rangkaian peristiwa yang membentuk sebuah cerita. Bagian-bagian alur adalah sebagai berikut:
1.      Tahap penyituasian atau pengantar/pengenalan
Tahap pembuka cerita atau pemberian informasi awal, terutama berfungsi untuk melandasi cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya.
2.      Tahap pemunculan konflik
Tahap awal munculnya konflik.Konflik dapat berkembang pada tahap berikutnya.Peristiwa-peristiwa yang menjadi inti cerita semakin mencengangkan dan menegangkan.
3.      Tahap klimaks
Konflik-konflik yang terjadi atau ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai titik intensitas puncak.
4.      Tahap peleraian
Penyelesaian pada klimaks, ketegangan dikendurkan, konflik-konflik tambahan diberi jalan keluar, kemudian cerita diakhiri, disesuaikan dengan tahap akhir diatas.
5.      Tahap penyelesaian
Konflik sudah diatasi/diselesaikan oleh tokoh.Cerita dapat diakhiri dengan gembira atau sedih.
d.      Latar
Latar merupakan keterangan yang menyebutkan waktu, ruang dan suasana terjadinya peristiwa pada sebuah karya sastra. Jenis-jenis latar:
1.      Latar waktu
Keterangan tentang kapan peristiwa itu terjadi.Misal, pagi, siang, sore, malam.
2.      Latar tempat
Keterangan tempat peristiwa itu terjadi.Missal dirumah, disekolah.
3.      Latar suasana
Latar suasana menggambarkan peristiwa yang terjadi.Misal, gembira, sedih, romantis.
e.       Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah penggunaan bahasa yang dapat menghidupakan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu.
f.        Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang berupa pemecahan atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada dalam cerita.
g.      Sudut Pandang
Sudut pandang merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu.
            Setelah mengetahui bagian apa saja yang terdapat dalam unsur intrinsik, berikut akan dibahas dalam contoh sebuah cerpen yang berjudul ”Pesta Keluarga”.
Tema :
Tema yang digunakan dalam cerpen ini adalah “Nasib tukang angkot dan segumpal daging”
Tema tersebut diambil karena nasib yang dialami Pak Rais selama menjadi supir angkot, entah itu saat Pak Rais mengeluh karena keadaan penumpangnya yang sepi ataupun penghasilan yang didapat. Selain itu juga, suatu hari Pak Rais mendapatkan sesuatu dari angkotnya. Semula dikira itu adalah sesuatu yang baik yang di dapat, namun sayang ternyata tidak, justru malah mendatangkan penyakit bagi keluarganya setelah memakannya.
Penokohan dan watak :
·         Pak Rais
-          Mudah tersinggung
“Aku manggut-manggut. Omongan perempuan itu makin membuatku kecut…”(Anwar, 2017:98)
-          Mudah mengeluh
“Sial, perempuan ini turun menjelang rute berakhir.Ini berarti aku harus menjalankan terus bemo ini hingga beberapa kilometer lagi.Tak bisa mangkal untuk menunggu penumpang terlalu lama.” (Anwar, 2017:98)
-          Bertanggung jawab
“Ini tanggung jawabku”
“Nggak enak ah”
Aku tetap mempertahankan daging itu.Tapi, hingga pukul satu siang, belum juga ada yang menanyakan. Padahal aku sudah melewati rute dan mangkal di tempat yang sama. (Anwar, 2017:100)
-          Mudah terpengaruh
“…Ada rasa tidak nyaman, tapi, di sisi lain, muncul juga rasa senang.” (Anwar, 2017:100)
“…Tak ada pilihan lain, aku akhirnya menurut saja pada kehendak mereka.”
“Tolong ada yang dibuat empal,” aku akhirnya punya usulan juga. (Anwar, 2017:101)
-          Jujur
“Tapi ini milik orang” aku menjawab lagi. (Anwar, 2017:100)
“Tapi itu bukan milik kita,” aku menyela. (Anwar, 2017:101)
-          Mudah putus asa
“…Aku menerawang ke langit-langit. Terlintas juga dalam pikiranku untuk mencari pekerjaan lain. Sopir bemo semakin lama semakin tidak memiliki harapan.” (Anwar, 2017:101)
-          Tidak sabar
“…Para sopir, termasuk aku tentunya, sering terlibat pertengkaran karena rebutan penumpang. Tempo hari bahkan kami nyaris tawuran dengan pengemudi bus kota karena rebutan jalur. Lahan kami makin sempit.” (Anwar, 2017:101-102)
-          Ramah
“Mari masuk, mbak” aku mempersilahkan sang tamu. (Anwar, 2017:104)
·         Penumpang bemo
-          Ramah
“Sepi,” katanya sambil kipas-kipas mengusir udara panas dan debu.(Anwar, 2017:97)
·         Markasan
-          Ingin tau
“Matang apa mentah?” Tanya Markasan. (Anwar, 2017:100)
·         Pardi
-          Egois
“Kalau tidak berani aku saja yang bawa,” Pardi menyodorkan tangannya. (Anwar, 2017:100)
·         Hadi
-          Ingin tau
“Daging apa?” (Anwar, 2017:100)
·         Bagio
-          Humoris
“Daging istri Hadi sudah kisut,” Bagio menambahkan celetukan.Tertawaan mereka makin ramai. (Anwar, 2017:100)
·         Istrinya Pak Rais
-          Polos
“Wah cocok untuk rawon, kata istriku ketika memerikasa daging dalam kotak yang aku sodorkan. (Anwar, 2017:101)
-          Serakah
“Masih banyak, nanti malam kita makan lagi” istriku menenangkan. (Anwar, 2017:104)
·         Neti
-          Polos
“Gulai” usul Neti anak perempuanku. (Anwar, 2017:101)
·         Andi dan Rudi
-          Polos
“Aku minta sate” kata Andi.
“Aku juga” Rudi ikut-ikutan. (Anwar, 2017:101)
-          Serakah
“… Mulut Rudi terlihat penuh.Tangan kirinya memegang tiga tusuk sate.Meski begitu, matanya masih jelalatan mengawasi gulai di mangkuk yang kembali aku ciduk.Istriku manggut-manggut sambil mengeremus daging.” (Anwar, 2017:103)
“Nanti aku makan lagi,” kata Andi.
“Aku juga” Rudi menyahut. (Anwar, 2017:104)
·         Mahasiswa
-          Teledor
“…Kami juga ingin mengadakan penelitian lebih lanjut. Tapi, Pak, eee… bahan yang akan kami teliti tadi apa tertinggal di bemo Bapak?” (Anwar, 2017:105)
-          Jujur
“Bukan daging, Pak. Itu adalah tumor yang telah kami ambil.” (Anwar, 2017:105)

Alur :
Alur yang digunakan dalam cerpen ini adalah alur maju, itu berarti jalan ceritanya tidak dominan membahas masa lampau.
a.       Tahap pengenalan
“Pukul sepuluh, bagi pengemudi bemo atau mikrolet, adalah jam mati.Penumpang sudah mulai sepi. Mereka yang berangkat ke kantor, para buruh, pekerja kasar, anak-anak sekolah, serta mereka yang berbelanja ke pasar sudah pada nyampai di tempatnya. Jalanan sudah mulai agak sepi….” (Anwar, 2017:97)
“Bemo yang aku kemudikan akhirnya sampai di dekat stasiun.Satu-satunya penumpang itu turun juga dan berjalan minggir ke tempat yang teduh.” (Anwar, 2017:99)
b.      Tahap pemunculan konflik
“Bu, barangnya ketinggalan!” aku memanggilnya agak keras.” (Anwar, 2017:99)
“Ada orang mencari barangnya yang ketinggalan di bemo?” tanyaku pada teman-teman sopir di pangkalan.” (Anwar, 2017:100)
“Aku tetap mempertahankan daging itu.Tapi, hingga pukul satu siang, belum juga ada yang menanyakan. Padahal aku sudah melewati rute dan mangkal di tempat yang sama. Aku khawatir, jika dibiarkan tentu daging itu akan membusuk dan baunya bisa menyebar….” (Anwar, 2017:100)

c.       Tahap klimaks
“Begini, Pak,” tamu yang cantik itu melanjutkan, “kami adalah mahasiswa kedokteran,.Sudah dua minggu kami ikut praktik di rumah sakit bagian bedah.Kami juga ingin mengadakan penelitian lebih lanjut. Tapi, Pak, eee… bahan yang akan kami teliti tadi apa tertinggal di bemo Bapak?”
Aku agak gugup.Bagaimana harus menjawabnya.
“Eee… tidak,” aku menggeleng-geleng.
“Maaf, Pak. Barangnya tidak berharga.Tapi itu sangat kami perlukan.Kami telah mengumpulkannya selama dua minggu.Ada dalam tas plastik warna putih.”
“Apa barangnya itu?” aku pura-pura bertanya.
“Begini, Pak. Banyak orang menderita penyakit dalam tubuhnya.Ada yang di bawah kulit, di otak, kandungan, rahim, payudara, usus, dan lainnya. Kami ingin meneliti penyakit itu”
“Ya ya… terus?”
“Nah, hasil operasi dari semua operasi tadi apa tertinggal di bemo Bapak?”
“Eee…,” aku terdiam beberapa lama. “Eee… daging…?”
“Bukan daging, Pak. Itu adalah tumor yang telah kami ambil.”
“Tu…tumor…?” aku meremas mulut.
“Ya, Pak, yang mirip daging dalam tas plastik putih itu adalah tumor.” (Anwar, 2017:105)
d.      Tahap peleraian
“Huuuek!” isi perutku pun menyembul keluar.Tumpah dan meluber ke lantai.
“Huuuek!” istriku kembali muntah, lalu disusul lagi oleh anak-anak.
“Haaaiiik!”
“Kreezzz!”
“Khrruuuek!”
Kami sekeluarga muntah bersamaan.Rasanya tak bisa berhenti. Semua isi perut memberontak keluar… (Anwar, 2017:106)

Latar :
·         Latar tempat
-          Tempat mangkal oprasi bemo
“…Itulah sebabnya banyak sopir yang memilih mangkal tidak beroperasi atau pulang. Mereka akan kembali mencari penumpang ketika sore hari saat para pekerja beranjak pulang.” (Anwar, 2017:97)
“Ada orang mencari barangnya yang ketinggalan di bemo?” tanyaku pada teman-teman sopir di pangkalan. (Anwar, 2017:100)



-          Dapur rumah Pak Rais
“…Tak lama setelah itu ada bau daging terbakar. Ini mungkin anak-anak lagi membuat sate.Aku beranjak ke dapur. Ternyata benar, Neti sedang membakar sate di depan pintu belakang.” (Anwar, 2017:102)
-          Di meja makan rumah Pak Rais
“Sore itu, tidak seperti biasanya, kami makan lebih awal.Mumpung semua masih hangat.Kami sudah duduk berkeliling di meja makan.” (Anwar, 2017:103)
“…Terlihat istri dan ketiga anakku muntah-muntah dengan wajah merah padam. Muntahannya meluber di meja makan.” (Anwar, 2017:105)
-          Ruang tamu rumah Pak Rais
“Mari masuk, Mbak,” aku mempersilakan sang tamu. (Anwar, 2017:104)
·         Latar waktu
-          Siang hari
“Sepi” katanya sambil kipas-kipas udara panas dan debu kemarau. (Anwar, 2017:97)
“Tambah siang udara makin panas dan berdebu.Penumpang masih tetap satu orang.” (Anwar, 2017:98)
-          Sore hari
“Sore itu, tidak seperti biasanya, kami makan lebih awal.”(Anwar, 2017:103)
·         Latar suasana
-          Gelisah
“Aku tetap mempertahankan daging itu.Tapi, hingga pukul satu siang, belum juga ada yang menanyakan. Padahal aku sudah melewati rute dan mangkal di tempat yang sama. Aku khawatir, jika dibiarkan tentu daging itu akan membusuk dan baunya bisa menyebar. Aku pun terpaksa membawa daging itu pulang.” (Anwar, 2017:100)
-          Gembira
“Wah cocok untuk rawon,” kata istriku ketika memeriksa daging dalam kotak yang aku sodorkan.Wajahnya tampak berbinar-binar.
“Mereka tampak gembira dengan daging itu.Istriku segera membawanya ke dapur.” (Anwar, 2017:101)
-          Gugup
“Aku agak gugup.Bagaimana harus menjawabnya.”
“Eee… tidak,” aku menggeleng-geleng.
“Apa barangnya itu?” aku pura-pura bertanya. (Anwar, 2017:105)

Gaya bahasa :
Gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen yang berjudul “Pesta Keluarga” ini adalah menggunakan Majas Retorik dan Majas Personifikasi. Pengertian dari majas retorik sendiri adalah majas yang berupa kalimat tanya namun tak memerlukan jawaban. Berikut bentuk kutipan majas retorik dalam cerpen “Pesta Keluarga” terdapat pada kalimat “Mana mungkin aku ingat jumlah dan wajahnya?” (Anwar, 2017:99)
Majas Personifikasi adalah majas yang membandingkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia. Berikut bentuk kutipan majas personifikasi pada cerpen “Pesta Keluarga” terdapat pada kalimat “…Wajahnya tampak berbinar-binar” (Anwar, 2017:101)
Selain itu juga, bahasa yang digunakan dalam cerpen “Pesta Keluarga” adalah bahasa yang sering digunakan sehari-hari sehingga lebih mudah dipahami.
Amanat :
-          Jangan mudah terpengaruh dengan keadaan
-          Hendaknya tidak menggunakan barang yang bukan milik kita
-          Bersikaplah lebis sabar dalam menghadapi keadaan
-          Jangan menilai sesuatu itu baik padahal belum jelas asal usulnya
Sudut pandang :
Dalam cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama.Sebab penulis lebih banyak menggunakan kata “aku” dan seolah-olah penulis menggambarkan dirinya pada cerita tesebut.Seperti contoh dalam kutipan “Aku berusaha mengingat-ingat siapa saja penumpang yang duduk di dekatku dari tadi.” (Anwar, 2017:99)


Daftar Pustaka

Anwar, M. Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan: PustakaIlalang.
Rosana, Dewi dan Gunawan Budi Santoso. 2015. Bahasa Indonesia. Sidoarjo: Masmedia.

Rohmatullah. 2013. Pengertian Majas, Contoh & Macam-macam Majas. http://rohmatullahh.blogspot.co.id/2013/09/PengertianMajasContohMacam-macamMajas.html# (diakses pada tanggal 1 April 2017)

Jumat, 19 Mei 2017

Makalah Teori Feminisme

MAKALAH
TEORI FEMINISME
Dosen Pengampu :
Dr. M. Shoim Anwar M.Pd
  Oleh :
2016-B/ Kelompok 7
1. Heronimus Puji Santoso               (165200018)
2. Alfi Nur Dina                                 (165200043)
3. Sri Wulan P                                   (165200079)
4 Fheren Noven Isnaini                    (165200088)


UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2017






Kata Pengantar
                                                                                                 
Puji syukur atas kehadirat allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Teori Feminisme ini tepat waktu. Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua teman atau kerabat yang mendukung kami untuk menyelesaikan makalah ini. Semoga Allah SWT membalas semua amal budi baik mereka dan selalu memberi rahmat dan anugerahnya kepada mereka semua.
Dalam menyusun makalah ini kami merasa masih kurang dari sempurna, karena keterbatasan kami sendiri dalam penguasaan ilmu pengetahuan maupun pengalaman. Untuk itu kami mohon dapatnya memberi saran dan kritik yang sifatnya membangun dari para pembaca sangat kami harapkan, semoga dengan makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan.




                                                                                                            Surabaya,  24 April 2017













Teori Feminisme

Secara etimologis feminis berasal dari kata femme (woman), yang berarti perempuan (tunggal) yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak), sebagai kelas sosial. Dalam hubungan ini perlu dibedakan antara male dan female (sebagai aspek perbedaan biologis, sebagai hakikat alamiah), masculine dan feminine (sebagai aspek perbedaan psikologis dan kultural). Dengan kalimat lain, male-female mengacu pada seks, sedangkan masculine-feminine mengacu pada jenis kelamin atau gender, sebagai he dan she (Shelden, 1986: 132). Jadi, tujuan feminis adalah keseimbangan, interelasi gender. Dalam pengertian yang paling luas, feminis adalah gerakan kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disurbodinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial pada umumnya. Dalam pengertian yang lebih sempit, yaitu dalam sastra, feminis dikaitkan dengan cara-cara memahami karya sastra baik dalam kaitannya dengan proses produksi maupun resepsi. Emansipasi wanita dengan demikian merupakan salah satu aspek dalam kaitannya dengan persamaan hak. Dalam ilmu sosial kontemporer lebih dikenal sebagai gerakan kesetaraan gender.
Sebagai gerakan modern, feminisme lahir awal abad ke-20, yang dipelopori oleh Virginia Woolf dalam bukunya yang berjudul A Room of One’s Own (1929). Perkembangannya yang sangat pesat, yaitu sebagai salah satu aspek teori kebudayaan kontemporer, terjadi tahun 1960-an. Model analisisnya sangat beragam, sangat kontekstual, berkaitan dengan aspek-aspek sosial, politik, dan ekonomi. Menurut Teeuw (naskah belum diterbitkan), beberapa indikator yang telah dianggap memicu lahirnya gerakan feminis di dunia Barat tersebut, sebagai berikut.
1.      Berkembangnya teknik kontrasepsi, yang memungkinkan perempuan melepaskan diri dari kekuasaan laki-laki.
2.      Radikalisasi politik, khususnya sebagai akibat perang Vietnam.
3.      Lahirnya gerakan pembebasan dari ikatan-ikatan tradisional, misalnya, ikatan gereja, ikatan kulit hitam Amerika, ikatan mahasiswa, dan sebagainya.
4.      Sekularisasi, menurunnya wibawa agama dalam segala bidang kehidupan.
5.      Perkembangan pendidikan yang secara khusus dinikmati oleh perempuan.
6.      Reaksi terhadap pendekatan sastra yang mengasingkan karya dari struktur sosial, seperti Kritik Baru dan strukturalisme.
7.      Ketidakpuasan terhadap teori praktik dan ideologi Marxisorthodoks, tidak terbatas sebagai Marxis Sovyet atau Cina, tetapi Marxis di dunia Barat secara keseluruhan.

Teori Feminisme Liberal
Teori ini berasumsi bahwa pada dasarnya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Karena itu perempuan harus mempunyai hak yang sama dengan laki-laki. Meskipun demikian, kelompok feminis liberal menolak persamaan secara menyeluruh antara laki-laki dan perempuan. Dalam beberapa hal masih tetap ada pembedaan (distinction) antara laki-laki dan perempuan. Bagaimanapun juga, fungsi organ reproduksi bagi perempuan membawa konsekuensi logis dalam kehidupan bermasyarakat (Ratna Megawangi, 1999: 228). 
Teori kelompok ini termasuk paling moderat di antara teori-teori feminisme. Pengikut teori ini menghendaki agar perempuan diintegrasikan secara total dalam semua peran, termasuk bekerja di luar rumah. Dengan demikian, tidak ada lagi suatu kelompok jenis kelamin yang lebih dominan. Organ reproduksi bukan merupakan penghalang bagi perempuan untuk memasuki peran-peran di sektor publik. 

Teori Feminisme Marxis-Sosialis
Feminisme ini bertujuan mengadakan restrukturisasi masyarakat agar tercapai kesetaraan gender. Ketimpangan gender disebabkan oleh sistem kapitalisme yang menimbulkan kelas-kelas dan division of labour, termasuk di dalam keluarga. Gerakan kelompok ini mengadopsi teori praxis Marxisme, yaitu teori penyadaran pada kelompok tertindas, agar kaum perempuan sadar bahwa mereka merupakan ‘kelas’ yang tidak diuntungkan. Proses penyadaran ini adalah usaha untuk membangkitkan rasa emosi para perempuan agar bangkit untuk merubah keadaan (Ratna Megawangi, 1999: 225). Berbeda dengan teori sosial-konflik, teori ini tidak terlalu menekankan pada faktor akumulasi modal atau pemilikan harta pribadi sebagai kerangka dasar ideologi. Teori ini lebih menyoroti faktor seksualitas dan gender dalam kerangka dasar ideologinya.
Teori ini juga tidak luput dari kritikan, karena terlalu melupakan pekerjaan domistik. Marx dan Engels sama sekali tidak melihat nilai ekonomi pekerjaan domistik. Pekerjaan domistik hanya dianggap pekerjaan marjinal dan tidak produktif. Padahal semua pekerjaan publik yang mempunyai nilai ekonomi sangat bergantung pada produk-produk yang dihasilkan dari pekerjaan rumah tangga, misalnya makanan yang siap dimakan, rumah yang layak ditempati, dan lain-lain yang memengaruhi pekerjaan publik tidak produktif. Kontribusi ekonomi yang dihasilkan kaum perempuan melalui pekerjaan domistiknya telah banyak diperhitungkan oleh kaum feminis sendiri. Kalau dinilai dengan uang, perempuan sebenarnya dapat memiliki penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki dari sektor domistik yang dikerjakannya (Ratna Megawangi, 1999: 143). 

Teori Feminisme Radikal
Teori ini berkembang pesat di Amerika Serikat pada kurun waktu 1960-an dan 1970-an. Meskipun teori ini hampir sama dengan teori feminisme Marxis-sosialis, teori ini lebih memfokuskan serangannya pada keberadaan institusi keluarga dan sistem patriarki. Keluarga dianggapnya sebagai institusi yang melegitimasi dominasi laki-laki (patriarki), sehingga perempuan tertindas. Feminisme ini cenderung membenci laki-laki sebagai individu dan mengajak perempuan untuk mandiri, bahkan tanpa perlu keberadaan laki-laki dalam kehidupan perempuan. Elsa Gidlow mengemukakan teori bahwa menjadi lesbian adalah telah terbebas dari dominasi laki-laki, baik internal maupun eksternal. Martha Shelley selanjutnya memperkuat bahwa perempuan lesbian perlu dijadikan model sebagai perempuan mandiri (Ratna Megawangi, 1999: 226).
Karena keradikalannya, teori ini mendapat kritikan yang tajam, bukan saja dari kalangan sosiolog, tetapi juga dari kalangan feminis sendiri. Tokoh feminis liberal tidak setuju sepenuhnya dengan teori ini. Persamaan total antara laki-laki dan perempuan pada akhirnya akan merugikan perempuan sendiri. Laki-laki yang tidak terbebani oleh masalah reproduksi akan sulit diimbangi oleh perempuan yang tidak bisa lepas dari beban ini.




Teori Ekofeminisme
Teori ekofeminisme muncul karena ketidakpuasan akan arah perkembangan ekologi dunia yang semakin bobrok. Teori ini mempunyai konsep yang bertolak belakang dengan tiga teori feminisme modern seperti di atas. Teori-teori feminisme modern berasumsi bahwa individu adalah makhluk otonom yang lepas dari pengaruh lingkungannya dan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Sedang teori ekofeminisme melihat individu secara lebih komprehensif, yaitu sebagai makhluk yang terikat dan berinteraksi dengan lingkungannya (Ratna Megawangi, 1999: 189).
Menurut teori ini, apa yang terjadi setelah para perempuan masuk ke dunia maskulin yang tadinya didominasi oleh laki-laki adalah tidak lagi menonjolkan kualitas femininnya, tetapi justeru menjadi male clone (tiruan laki-laki) dan masuk dalam perangkap sistem maskulin yang hierarkhis. Masuknya perempuan ke dunia maskulin (dunia publik umumnya) telah menyebabkan peradaban modern semakin dominan diwarnai oleh kualitas maskulin. Akibatnya, yang terlihat adalah kompetisi, self-centered, dominasi, dan eksploitasi. Contoh nyata dari cerminan memudarnya kualitas feminin (cinta, pengasuhan, dan pemeliharaan) dalam masyarakat adalah semakin rusaknya alam, meningkatnya kriminalitas, menurunnya solidaritas sosial, dan semakin banyaknya perempuan yang menelantarkan anak-anaknya (Ratna Megawangi, 1999: 183).


Daftar Pustaka

Kutha Ratna, Nyoman. 2013. Teori, Metode, Dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Marzuki. Kajian Awal Tentang Teori dan Gender. Yogyakarta.
journal.uny.ac.id/index.php/civics/article/download/6032/5221 (diunduh pada tanggal 24 April 2017)