Rabu, 26 Juli 2017

Teori Struktural Puisi

Teori Struktur Puisi
            Puisi sebagai salah sebuah karya seni sastra dapat dikaji dari berbagai macam aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. Begitu juga, puisi dapat dikaji dari sudut kesejarahannya, mengingat bahwa sepanjang sejarahnya, dari waktu ke waktu puisi selalu ditulis dan selalu dibaca orang. Shahnon Ahmad (1978: 3) mengumpulkan definisi-definisi puisi yang dikemukakan oleh penyair romantic Inggris. Menurut Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan yang terindah. Menurut Carlyle, puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Menurut Wordsworth, puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun pendapat dari Auden, puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur, sedangkan menurut Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama.
           Jadi, puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi pancaindra dalam susunan yang berirama. Semua itu merupakan sesuatu yang penting, yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan memberi kesan. Puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan. Selain pengertian puisi, kalian juga perlu memahami struktur puisi. Adapun struktur puisi dibagi menjadi dua:
a)      Struktur Fisik
1.      Diksi, yaitu pemilihan kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya.
2.      Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan.
3. Kata konkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indra yang memungkinkan munculnya imaji.
4. Gaya bahasa (bahasa figurative), yaitu penggunaan bahasa yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu.
5.      Rima/irama, yaitu persamaan bunyi pada puisi, baik diawal, tengah, dan akhir baris puisi.
b)      Struktur Batin 
1.  Tema/makna: media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
2.      Rasa, yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya.
3.     Nada, yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca.
4.    Amanat/tujuan/maksud, yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca.
 DAFTAR PUSTAKA
Pradopo, Rachmat Djoko. 2014. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada           University Press
Rosana, Dewi dan Gunawan Budi Santoso. 2015. Bahasa Indonesia. Sidoarjo:  Masmedia.

Senin, 24 Juli 2017

Teori sastra Tugas UAS (Analisis makna batin puisi)

1. Puisi memiliki lapis makna yaitu subject matter, feeling, tone, total of meaning, dan theme.
   a. Subject matter: Pokok pikiran yang dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakannya. Dalam subject matter gambaran umum telah diperinci dalam satuan-satuan pokok pikiran. Sehingga dalam menulis analisis puisi, subject matter akan melahirkan pertanyaan, “pokok pikiran apa yang akan diungkapkan oleh penyair sesuai dengan gambaran umum itu?”  
   b. Feeling: Sikap penyair terhadappokok pikiran yang ditampilkan. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa setiap manusia mempunyai sikap dan pandangan tertentu dalam menghadapi setiap pokok persoalan.
   c. Tone: Sikap penyair terhadap pembaca/penikmat puisi. Bagaimanakah sikap penyair terhadap pembacanya dapat dirasakan dari nada ciptaanya. Apakah penyair itu bersikap menggurui, angkuh, membodohkan, rendah hati, sugestif, persuatif, dan sebagainya terhadap para peminat puisinya jelas akan kelihatan dari warna puisi tersebut.
   d. Total of meaning: Totalitas makna adalah keseluruhan makna yang terdapat dalam puisi. Penentuan makna ini didasarkan pada pokok-pokok pikiran yang ditampilkan penyair, sikap penyair terhadap pokok persoalan yang disajikan dalam puisi, serta sikap penyair terhadap penikmat puisinya
   e. Theme: Merupakan ide dasar dari suatu puisi yang bertindk sebagai inti dari keseluruhan makna   dalam puisi tersebut. Tema hanya dapat ditentukan dengan cara menyimpulkan inti yang terdapat dalam totalitas makna puisi.

2. a) Puisi Malam Itu

Malam itu aku seperti tercampakkan
Bagai tebu habis disesap dahaga waktu
Ruang hampa
Sendiri kian menganga
Tak terkira
Di manakah dengus yang mendetakkan gairah
Sedang aromamu berseliweran menguntit raga
Kueja detak yang merangkak
Bosan berselimut kelam
Adakah peri mengirim isyarat di sunyi
Sedang kepergianmu menebus rindu
Yang tak kutahu
Ingin kutinggal gelanggang
Menggelandang ke ketiak senyap
Kutawar tawar rasa
Muntah kujilat kembali di lidah
Ah tak sanggup aku rupanya

 Berbicara mengenai lapis makna puisi pada puisi tersebut adalah subject matter yaitu pokok pikiran yang dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakannya. Pada puisi tersebut berjudul “Malam Itu” menceritakan tentang seseorang yang merindukan kekasihnya dan dia ditinggal pergi. Terdapat pada kutipan berikut:
 “Sedang kepergianmu menebus rindu”
Dan tidak hanya rindu, dia ingin mengobati rasa rindu itu dengan cara ingin melupakannya. Hal itu didukung pada kutipan berikut:
 “Ingin kutinggal gelanggang”
“Menggelandang ke ketiak senyap”
“Kutawar tawar rasa”
“Muntah kujilat kembali di lidah”
“Ah tak sanggup aku rupanya”
Felling pada puisi tersebut adalah rasa sedih. Kesedihan Karena ditinggal sang kekasih dan rindu akan kekasihnya. Perasaan yang ditekankan pada puisi “Malam Itu” adalah kesedihan. Hal tersebut ada pada kutipan Sendiri kian menganga.
Tone atau nada yang ditunjukkan dalam puisi “Malam Itu” adalah kerinduan. Nada kerinduan ini muncul karena rasa rindu seorang pria yang memiliki kekasih tapi ditinggal pergi oleh kekasihnya. Maka munculah benih-benih kerinduan dalam pria tersebut. Perasaan yang ditekankan pada puisi “Malam Itu” adalah kesedihan.
 Total of meaning pada puisi “Malam Itu” adalah bahwa penyair mengawali puisi nya dengan kata Malam itu aku seperti tercampakkan . Seperti ‘aku’ dalam kata tersebut sama dengan artian seseorang yang tidak dihargai. Juga seseorang tersebut ditinggal pergi dengan kekasihnya. Dan menimbulkan akibat bagi seseorang tersebut untuk mempunyai rasa rindu. Rindu kepada kekasihnya yang meninggalkan dia pergi.  Feeling pada puisi “Malam Itu” adalah rasa sedih. Hal ini terdapat pada kata Sendiri kian menganga. Rasa Sedih karena ditinggal sang kekasih. Dan nada dalam puisi tersebut adalah kerinduan.  Dimana rindu seorang pria yang ditinggal pergi oleh kekasihnya.
  Theme atau tema dalam puisi “Malam itu”  adalah kerinduan. Dalam puisi “ Malam Itu” menceritakan tentang seorang pria yang ditinggal pergi oleh kekasihnya dan menimbulkan rasa rindu seorang pria tersebut kepada kekasihnya. Dia ingin mengatasi kerinduannya dengan melupakannya tetapi sayangnya dia tidak sanggup untuk melupakan kekasihnya itu.
b) Puisi Rambutmu

Gelombang mengalir di rambutmu
Basah di pagi itu
Memerah tanpa pewarna
Kukeringkan dengan panas darahku
Sebab padamu telah kueja sejarah
Yang terpendam dalam larutan
Di luar lurus lapang
Di dalam meliuk kau sembunyikan
Biarkanlah apa adanya
Rumputan menjalar indah dipandang
Telah kutemukan cermin hidupku
Pada rambutmu
Saat kujamah di pagi yang basah

Subject matter pada puisi “Rambutmu” yaitu seorang pria yang mengagumi sang gadis karena sifat sang gadis yang apa adanya. Juga karena sudah mengetahui masa lalunya, seorang pria tersebut memperjuangkannya.
Felling atau perasaan pada puisi tersebut adalah rasa kagum. Karena seorang pria sangat terkagum kagum pada sang gadis dengan sifatnya yang apa adanya. Terdapat pada larik Rumputan menjalar indah dipandang. 
Tone yang ditekankan pada puisi tersebut adalah kebahagiaan. Kebahagian seorang pria yang menemukan cermin hidupnya.
Total of meaning dalam puisi “Rambutmu” yaitu seorang pria yang mengagumi sang gadis yang mempunyai sifat adanya. Dan felling seorang pria yang dipenuhi rasa kagum kepada sang gadis hingga dia memperjuangkannya untuk sang gadis. Juga tone yang ditekankan yaitu kebahagiaan seorang pria karena sang gadis.
Theme dalam puisi “ Rambutmu” adalah kekaguman.
c) Puisi Mendung Berduri

Balasanmu pendek sekali
Seperti pelepah pisang yang dirajang celurit cemburu
Patahnya menyisakan amis di dada
Mengapa percik getahnya menyiprat ke lading
Yang kutanam dengan cinta
Cuaca sepanjang hari mengirim mendung berduri
Adakah aku harus berlari
Meninggalkan jejak yang terlanjur mengurai sepi
Pada jemarimu telah kutulis sekuntum puisi
Sementara sayap-sayap mawar yang gugur minta kuganti
Biji esok hari
Tapi kilatan-kilatan celuritmu menuding kedahi
Tanpa kumengerti

Subject matter pada puisi “Mendung Berduri” yaitu tentang seorang pria yang kecewa terhadap kekasihnya. Juga  kekasihnya  yang sudah menuduhnya karena rasa cemburu yang dirasakan oleh kekasihnya. Terdapat pada larik Mengapa percik getahnya menyiprat ke lading.
Felling yang ditekankan pada puisi “Mendung Berduri” adalah rasa kecewa. Kecewanya seorang pria terhadap kekasihnya yang dengan cuek membalas pesannya karena kekasihnya yang cemburu terhadapnya. Hal itu dibuktikan dengan larik Balasanmu pendek sekali Seperti pelepah pisang yang dirajang celurit cemburu.
Tone atau nada yang ada dalam puisi “Mendung Berduri” adalah kekecewaan. Hal itu didukung pada larik Patahnya menyisakan amis di dada.
Total of meaning pada puisi tersebut adalah penyair menggambarkan tentang seorang pria yang merasa kecewa akan kekasihnya. Karena kekasihnya yang cemburu dan menuduhnya dengan sebab yang tidak jelas juga. Dan felling yang digambarkan pada puisi tersebut adalah rasa kecewa, juga tone atau nada yang ada dalam puisi “ Mendung Berduri” adalah kekecewaan seseorang terhadap kekasihnya.
Theme atau tema dalam puisi “Mendung Berduri”  adalah kekecewaan.



Daftar Pustaka

2016. lapis bentuk. Dalam

(https://indahnyaberpuisiitu.wordpress.com/2016/02/08/lapis-bentuk-struktur-lapis-makna-dan-ragam-dalam-puisi/)

Teori sastra tugas UAS (Teori Poskolonial)

MENGANALISIS CERPEN MENGGUNAKAN TEORI POSKOLONIAL GENETIK
Dosen Pembimbing
Dr. M. Shoim Anwar M.Pd



Oleh :

Tugas individu PBSI-B/2016

SRI WULAN PANGESTU             165200079

UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SURABAYA
2017






BAB 1
PENDAHULUAN
     Karya sastra mengungkapkan nilai-nilai sejarah yang ada pada masyarakat tertentu. Dalam hal ini, pengarang sebagai pencipta karya sastra tentu merupakan bagian dari masyarakat yang menggambarkan sejarah melalui karya sastranya.
   Tak dapat dipungkiri bahwa postkolonial merupakan sebuah wacana yang sangat menarik dan menantang. Melalui teks masyarakat postkolonial mampu mengekspresikan dan menemukan sarana resistensinya yang tajam. Menurut Foulcher dan Day (2008:4) postkolonial adalah salah satu kritik sastra yang mengkaji atau menyelidiki karya sastra tentang tanda-tanda atau pengaruh kolonial. Unsur-unsur postkolonial dapat ditemukan dalam karya satra seperti cerpen, puisi, novel dan drama.
  Poskolonial adalah pendekatan poststruktural yang diterapkan pada topik khusus. Kajian postkolonial, dengan sendiri tidak akan melupakan aspek-aspek kolonial, yaitu “penjajah” dan “terjajah”. Kolonialisme mengonstruksi masyarakat pribumi menurut kehendak dan tujuan-tujuan kekuasaannya. Teori poskolonial sangat relevan dalam kaitannya dengan kritik lintas budaya sekaligus wacana yang ditimbulkannya. Tema-tema yang dikaji sangat luas dan beragam, diantaranya: politik, ideologi, agama, pendidikan, sejarah, antropologi kesenian etnisitas, bahasa dan sastra, sekaligus dengan bentuk praktik dilapangan, seperti perbudakan, pendudukan, pemindahan penduduk, pemaksaan bahasa, dan berbagai bentuk invasi kultural yang lain.






BAB II
PEMBAHASAN
     Konsep Bhaba mengenai postkolonialisme bahwa penjajah itu seperti Max Havelar yang melahirkan politik etis di Indonesia. Baik dari konsep Said maupun Bhaba, konsep dari poskolonial bermuara pada lost identity atau kehilangan jati dirinya, baik dalam orientalisme, mimikri, maupun hibriditi. Faruk (2007:6) menyatakan bahwa tindakan masyarakat terjajah dalam melakukan peniruan ada kemungkinan mengejek penjajah karena mereka tidak melakukan peniruan dengan sepenuhnya setia pada model yang ditawarkan penjajah.
     Tokoh raksasa dalam cerpen ini juga memainkan peran yang tak kalah pentingnya dari tokoh aku/win yaitu tokoh utamanya. Bahwa raksasa itu menjajah manusia dengan lumpurnya. Hal itu dibuktikan dengan kutipan berikt ini:
“Dalam waktu yang sangat cepat, tanggul demi tanggul ambrol diterjang lumpur panas itu. Desa kami dilahap satu demi satu. Seperti monster cair yang melalap sasarannya sambal merayap ke segala arah. Maka korban pun terus berjatuhan.”(halaman 167)
“Raksasa itu semakin membesar. Kini kami semua menjadi sasarannya. Raksasa itu hendak menguasai tubuh-tubuh kami. Sawah-sawah dan lading kami telah dihabiskan. Ternak-ternak kami dilalapnya. Rumah kami jadi musnah.”(halaman 171)
     Dan juga adanya hegemoni kuasa yaitu raksasa yang melukai tokoh keluarga aku/win hingga sang mertua, ibu timas tewas. Dan seperti pada kutipan:
“Di tengah perjalanan, terjadi ledakan hebat di dekat kami. Pipa gas yang tertimbun lumpur panas itu meledak karena kemunculan sang raksasa dari perut bumi. Bunga api menyambar dan meluluhlantahkan tempat di sekitarnya. Kami terpental. Aku dan anakku masih mampu bangkit. Timas luka parah. Sedangkan sang mertua, ibu Timas, tewas dan tubuhnya robek-robek menjadi santapan sang raksasa.” (halaman 175)
     Pada cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” karya M. Shoim Anwar. Terdapat dua biner yaitu penjajah dan dijajah. Dijelaskan bahwa penjajah terdapat pada raksasa/lumpur panas dan yang di jajah terdapat pada tokoh timas, marsinah, dan ibu timas. Dan juga yang selalu terjajah dalam cerpen tersebut selalu perempuan. Terdapat pada kutipan:
“Tapi sayang, nasib Marsinah berakhir dengan tragis sebelum perjuangannya tercapai secara merata. Dia dijegal di Tugu Kuning saat pulang bersama Timas. Marsinah berteriak minta tolong. Timas tak kuasa karena sang raksasa membetotnya dengan cepat. Marsinah dibunuh dan dimangsa oleh sang raksasa itu.” (halaman 173)
”Aku dan anakku masih mampu bangkit. Timas luka parah. Sedangkan sang mertua, ibu Timas, tewas dan tubuhnya robek-robek menjadi santapan sang raksasa.”(halaman 175)
Dalam kutipan tersebut sudah jelas bahwa selalu kaum perempuan yang terjajah. Walaupun dalam cerpen tersebut juga ada laki-laki yang terjajah yaitu tokoh aku/win tapi masih dominan yang terjajah adalah kaum perempuan.




BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Secara umum postkolonial dipahami sebagai teori, wacana, dan istilah yang digunakan untuk memahami masyarakat bekas jajahan, terutama sesudah berakhirnya imperium kolonialisme modern. Berdasarkan pemaparan yang telah saya bahas dapat di simpulkan bahwa poskolonial yaitu cara pandang ‘barat” terhadap “timur”. Selama ini “barat” selalu mengasosiasikan diri mereka sebagai kelompok yang logis, maju, dan superior sementara “timur” selalu dipandang oleh barat sebagai kelompok yang kuno, tidak berpendidikan dan lemah.
Kajian postkolonial, dengan sendiri tidak akan melupakan aspek-aspek kolonial, yaitu “penjajah” dan “terjajah”. Jadi, dapat disimpulkan yaitu  pada cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” terdapat dua biner yang berbeda, menjajah dan dijajah, warga yang dijajah sedangkan raksasa yang menjajah.



  



Daftar Pustaka

Anwar, M. Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan: CV Pustaka Ilalang
ja’far.(2011).poskolonialisme. Dalam